B | BOTTLENECK | Constraint Validation Framework

Sebenarnya pada tahap BOTTLENECK, kita tidak lagi banyak bertanya kepada klien.

Mengapa?

Karena hasil WATCH dan INVESTIGATE sudah menghasilkan ratusan fakta.

Kalau WATCH adalah mengumpulkan data.

Kalau INVESTIGATE adalah mencari penyebab.

Maka BOTTLENECK adalah mengambil keputusan.

Artinya pertanyaan pada tahap ini bukan lagi menggali informasi, tetapi memvalidasi hipotesis.

4 taha:


BOTTLENECK

Constraint Validation Framework

Tujuan:

Menemukan SATU constraint terbesar yang jika diperbaiki akan menghasilkan dampak paling besar.

Bukan mencari 20 masalah.

Tetapi mencari satu.


STEP 1

Daftar Semua Kandidat Bottleneck

Dari WATCH dan INVESTIGATE biasanya muncul banyak kandidat.

Misalnya pada pabrik maklon.

  • Closing rendah
  • Formula lama selesai
  • Approval lambat
  • Purchasing terlambat
  • Mesin sering berhenti
  • QC lambat
  • Gudang penuh
  • Pengiriman terlambat
  • Cash flow macet
  • Owner overload

Jangan memilih dulu.

Tulis semuanya.


STEP 2

Uji Setiap Kandidat

Di sinilah daftar pertanyaan mulai digunakan.

Saya menyarankan setiap kandidat diuji dengan pertanyaan yang sama.

Misalnya.


Pertanyaan 1

Apakah masalah ini terjadi setiap hari?

Kalau hanya terjadi sekali.

Bukan bottleneck.

Itu insiden.


Pertanyaan 2

Apakah masalah ini mempengaruhi banyak divisi?

Kalau hanya satu divisi.

Kemungkinan belum bottleneck.


Pertanyaan 3

Kalau masalah ini hilang, apakah banyak masalah lain ikut hilang?

Ini pertanyaan paling penting.

Misalnya.

Approval Formula.

Kalau approval cepat.

Purchasing lebih cepat.

Produksi lebih stabil.

QC lebih teratur.

Pengiriman tepat waktu.

Cash Flow membaik.

Berarti kandidatnya kuat.


Pertanyaan 4

Kalau masalah ini tetap ada, apakah bisnis tetap sulit tumbuh?

Kalau jawabannya ya.

Kandidat semakin kuat.


Pertanyaan 5

Apakah owner paling banyak menghabiskan waktu di sini?

Biasanya owner selalu datang ke bottleneck.


Pertanyaan 6

Apakah pelanggan ikut merasakan dampaknya?

Kalau pelanggan tidak merasakan.

Biasanya bukan bottleneck utama.


Pertanyaan 7

Apakah bottleneck ini menghasilkan biaya terbesar?

Contoh.

lembur, rework, retur, komplain, kehilangan pelanggan, cash flow

· 


Pertanyaan 8

Apakah bottleneck ini menyebabkan antrean?

Constraint hampir selalu menciptakan antrean.

  • Order menunggu.
  • Approval menunggu.
  • Material menunggu.
  • Produksi menunggu.
  • Invoice menunggu.


Pertanyaan 9

Apakah bottleneck berpindah-pindah?

Kalau hari ini Sales.

Besok Produksi.

Lusa QC.

Kemungkinan masalahnya bukan di sana.

Tetapi di sistem.


Pertanyaan 10

Apakah bottleneck ini benar-benar penyebab?

Atau hanya akibat?

Ini pertanyaan terakhir.


STEP 3

Scoring

Nah ini yang menurut saya akan menjadi ciri khas WIBISONO METHOD.

Daripada memilih berdasarkan feeling.

Saya akan membuat scoring.

Misalnya.

Kandidat

Frekuensi

Dampak

Biaya

Pengaruh ke Divisi

Pengaruh ke Customer

Total

Closing rendah

4

5

5

3

5

22

Approval Formula

5

5

5

5

5

25

Mesin rusak

3

4

4

2

3

16

QC lambat

4

3

3

2

3

15

Yang tertinggi.

Itulah kandidat utama.


STEP 4

Challenge Test

Ini yang menurut saya paling penting.

Saya selalu menguji hipotesis.

Misalnya.

Kalau saya memperbaiki approval formula...

Apa saja yang ikut membaik?

Kalau jawabannya.

produksi

purchasing

lead time

cash flow

customer satisfaction

kapasitas

Berarti...

Itu benar bottleneck.

Kalau dampaknya kecil.

Cari kandidat lain.


Next Level Concept

Daripada menyebutnya BOTTLENECK, buatlah konsultan selalu mencari Leverage Point.

Karena tidak semua bottleneck memiliki daya ungkit yang sama.

Saya membayangkan setiap kandidat dinilai berdasarkan 5 dimensi leverage:

Dimensi

Pertanyaan

Impact

Jika diperbaiki, berapa banyak KPI yang ikut membaik?

Breadth

Berapa banyak divisi yang terdampak?

Frequency

Seberapa sering masalah ini muncul?

Customer Effect

Apakah pelanggan langsung merasakan dampaknya?

Scalability

Apakah perbaikan ini meningkatkan kapasitas perusahaan untuk tumbuh?

Dengan pendekatan ini, keputusan tidak lagi berbunyi:

"Menurut saya bottleneck-nya di QC."

Tetapi menjadi:

"Berdasarkan skor leverage tertinggi, Project Planning memiliki dampak terhadap 6 divisi, memengaruhi 8 KPI utama, dirasakan langsung oleh pelanggan, dan menjadi penghambat utama kapasitas perusahaan. Oleh karena itu, Project Planning ditetapkan sebagai bottleneck utama yang harus diperbaiki terlebih dahulu."

WIBISONO METHOD terasa seperti metodologi konsultasi yang sistematis, dapat diaudit, dan dapat dipertanggungjawabkan—bukan sekadar mengandalkan intuisi konsultan.

 

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *