Karyawan Banyak tetapi Produktivitas Rendah

Contoh Kasus

Sebuah perusahaan kontraktor sudah berjalan 10 tahun.

Perusahaan memiliki:

  • 42 karyawan

  • 3 tim proyek

  • 6 proyek aktif

  • Omzet sekitar Rp4 miliar per bulan

Owner merasa jumlah karyawan sudah cukup besar.

Namun masalahnya, proyek sering terlambat.

Ketika ditanya mengapa pekerjaan lambat, jawaban yang muncul hampir selalu sama:

"Orangnya kurang."

Akhirnya owner menambah lagi 8 orang.

Total menjadi 50 karyawan.

Tetapi tiga bulan kemudian...

proyek tetap terlambat.

Bahkan biaya gaji semakin besar.

Owner mulai bertanya:

"Kalau orang sudah 50, kenapa pekerjaan masih lambat?"

Di sinilah Wibisono Method digunakan.


W — WATCH

Mengamati fakta, bukan asumsi

Data menunjukkan:

  • Karyawan: 50 orang

  • Proyek aktif: 6

  • Jam kerja: 8 jam/hari

  • Banyak pekerjaan tertunda

  • Banyak pekerjaan harus diulang

  • Supervisor terlalu banyak mengurus pekerjaan teknis

  • Briefing proyek tidak selalu jelas

  • Sebagian karyawan menunggu instruksi

  • Pekerjaan antarbagian sering saling menunggu

  • Owner masih sering menjadi tempat mengambil keputusan kecil

Yang menarik:

Jumlah orang sebenarnya bukan masalah utama.

Ada cukup banyak tenaga kerja.

Tetapi waktu produktif mereka rendah.


I — INVESTIGATION

Mencari apa yang sebenarnya membuat karyawan tidak produktif

Kemudian dilakukan investigasi kepada beberapa pihak.

Owner

"Menurut saya karyawan kurang inisiatif."

Supervisor

"Kami sering menunggu keputusan owner."

Karyawan

"Kadang kami tidak tahu mana pekerjaan yang harus diprioritaskan."

Purchasing

"Material kadang terlambat datang karena permintaan dari proyek mendadak."

Project Manager

"Beberapa pekerjaan harus dikerjakan ulang karena instruksi awal berubah."

Kemudian dilakukan pengamatan aktivitas harian.

Ternyata banyak waktu terbuang untuk:

  • Menunggu material

  • Menunggu keputusan

  • Menunggu instruksi

  • Mencari informasi

  • Memperbaiki pekerjaan

  • Rapat yang tidak menghasilkan keputusan

  • Mengulang pekerjaan

Jadi masalahnya bukan:

"Karyawan tidak mau bekerja."

Tetapi:

Sistem kerja membuat karyawan kehilangan banyak waktu produktif.


B — BOTTLENECK

20 masalah ternyata 1 bottleneck

Sebelumnya owner melihat banyak masalah:

  1. Karyawan kurang disiplin.

  2. Karyawan kurang inisiatif.

  3. Produktivitas rendah.

  4. Proyek terlambat.

  5. Gaji semakin besar.

  6. Banyak lembur.

  7. Supervisor kewalahan.

  8. Komunikasi buruk.

  9. Material terlambat.

  10. Banyak pekerjaan ulang.

  11. Briefing tidak efektif.

  12. Banyak meeting.

  13. Owner terlalu banyak turun tangan.

  14. Karyawan menunggu instruksi.

  15. Target tidak jelas.

  16. Pembagian tugas tidak jelas.

  17. Banyak keputusan lambat.

  18. Antarbagian saling menunggu.

  19. Biaya proyek membengkak.

  20. Semangat kerja menurun.

Tetapi setelah dianalisis:

Bottleneck utamanya bukan jumlah karyawan.

Bottleneck-nya adalah sistem kerja dan alur pengambilan keputusan yang tidak efisien.

Artinya:

Menambah orang tidak otomatis menambah output.

Kalau sistemnya membuat orang menunggu, maka:

50 orang pun bisa kalah produktif dibanding 30 orang dengan sistem yang lebih baik.


I — IMPROVE

Jangan tambah karyawan. Perbaiki cara kerja.

Perusahaan kemudian fokus memperbaiki beberapa titik.

1. Job Description

Setiap posisi dibuat jelas:

Apa tanggung jawabnya?

Apa targetnya?

Apa yang boleh diputuskan sendiri?

Kapan harus meminta approval?


2. Daily Priority

Setiap tim mengetahui:

3 pekerjaan paling penting hari ini.

Bukan sekadar:

"Kerjakan proyek."

Tetapi:

"Hari ini selesaikan pemasangan rangka lantai 2 sampai 100%."

Target menjadi lebih konkret.


3. Decision Authority

Supervisor diberikan kewenangan mengambil keputusan tertentu tanpa harus menunggu owner.

Misalnya:

Pengeluaran material sampai nominal tertentu dapat diputuskan langsung.


4. Material Planning

Material direncanakan sebelum pekerjaan dimulai.

Tujuannya:

Jangan sampai 10 orang menunggu satu material yang belum datang.


5. Eliminate Rework

Setiap pekerjaan yang harus diulang dicatat:

Apa penyebabnya?

Siapa yang bertanggung jawab?

Bagaimana mencegahnya?


S — SYSTEMIZE

Setelah perbaikan mulai menunjukkan hasil, dibuat sistem.

SOP Pekerjaan

Setiap pekerjaan memiliki standar.

Daily Task Board

Semua orang tahu:

Hari ini → mengerjakan apa.

Project Dashboard

Owner dapat melihat:

  • Progress

  • Target

  • Keterlambatan

  • Material

  • Produktivitas

  • Rework

KPI

Karyawan tidak hanya dinilai berdasarkan:

"Datang tepat waktu."

Tetapi juga berdasarkan:

output yang dihasilkan.

Misalnya:

Target pemasangan = 100 m²/hari.

Maka produktivitas dapat diukur.


O — OPTIMIZE

Setelah sistem berjalan, perusahaan mulai mengukur.

Sebelumnya:

Output rata-rata: 70 unit pekerjaan/hari

Setelah sistem diperbaiki:

90 unit/hari

Kemudian dianalisis lagi.

Ditemukan bahwa beberapa tim masih memiliki waktu tunggu tinggi.

Maka fokus berikutnya adalah:

mengurangi waiting time.

Setelah diperbaiki:

90 → 105 unit/hari.

Artinya perusahaan tidak perlu menambah 10 karyawan untuk meningkatkan output.

Produktivitas naik dari sistem yang lebih baik.


N — NEXT GROWTH

Setelah produktivitas meningkat, perusahaan baru mempertimbangkan ekspansi.

Misalnya:

Sebelumnya:

50 karyawan → 6 proyek

Setelah sistem diperbaiki:

50 karyawan → mampu menangani 8 proyek.

Barulah jika permintaan terus meningkat, perusahaan merekrut orang baru.

Dan orang baru tersebut masuk ke:

sistem yang sudah siap.

Bukan masuk ke sistem yang masih kacau.


ONE PAGE SUMMARY

Wibisono MethodTemuan
WATCH50 karyawan tetapi proyek tetap terlambat
INVESTIGATIONBanyak waktu hilang karena menunggu, pekerjaan ulang, dan keputusan lambat
BOTTLENECKSistem kerja dan decision flow tidak efisien
IMPROVEPerjelas target, kewenangan, material planning dan kurangi rework
SYSTEMIZESOP, daily task, dashboard dan KPI
OPTIMIZEUkur output per orang, waiting time dan rework
NEXT GROWTHTingkatkan kapasitas sebelum menambah headcount

Inti Wibisono Method:

Jangan langsung bertanya, "Berapa orang lagi yang kita butuhkan?"

Tanyakan terlebih dahulu:

"Berapa banyak waktu produktif yang sebenarnya hilang dari orang-orang yang sudah kita punya?"

Karena terkadang perusahaan bukan kekurangan SDM.

Perusahaan kekurangan sistem yang membuat SDM produktif.

Konsultasi untuk optimasi usaha hub no WA yang tercantum di blog ini.

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar