Mengapa Produk yang Paling Laris Belum Tentu Produk yang Paling Menguntungkan? Ini Cara Membaca Profit per Produk
Contoh Kasus
Sebuah brand skincare lokal memiliki 5 produk utama.
Produk yang paling sering dibeli adalah:
Brightening Serum
Dalam sebulan terjual:
8.000 botol
Owner tentu menganggap serum ini sebagai:
"Produk terbaik kami."
Kemudian owner memutuskan:
Budget iklan diperbesar.
Stok ditambah.
Sales diarahkan menjual serum.
Produksi ditingkatkan.
Namun ketika dilakukan analisis profit per produk menggunakan Wibisono Method, hasilnya ternyata mengejutkan.
| Produk | Unit Terjual | Omzet | Margin Kotor | Profit Kontribusi |
|---|---|---|---|---|
| Brightening Serum | 8.000 | Rp640 jt | 22% | Rp68 jt |
| Moisturizer | 4.000 | Rp480 jt | 38% | Rp112 jt |
| Sunscreen | 3.500 | Rp525 jt | 34% | Rp105 jt |
| Cleanser | 5.000 | Rp350 jt | 29% | Rp72 jt |
| Night Cream | 1.500 | Rp270 jt | 43% | Rp86 jt |
Produk yang paling laris:
Brightening Serum
Tetapi produk yang memberikan profit terbesar:
Moisturizer.
Owner kemudian bertanya:
"Selama ini jangan-jangan saya salah mengartikan produk terbaik?"
W — WATCH
Langkah pertama:
Jangan hanya melihat jumlah unit terjual.
Lihat minimal:
Unit sold.
Revenue.
COGS.
Gross profit.
Marketing cost.
Packaging.
Shipping subsidy.
Discount.
Return.
Contribution profit.
Karena:
Produk yang paling banyak terjual belum tentu menghasilkan uang paling banyak.
I — INVESTIGATION
Kemudian Brightening Serum dibongkar lebih dalam.
Harga jual:
Rp80.000
Biaya produksi:
Rp45.000
Sekilas:
Profit kotor = Rp35.000.
Kelihatannya bagus.
Tetapi ternyata produk ini memiliki:
Diskon rata-rata Rp8.000.
Subsidi promo Rp4.000.
Biaya iklan rata-rata Rp7.000.
Packaging tambahan Rp2.000.
Retur/refund rata-rata Rp1.000.
Maka contribution profit sebenarnya:
Rp35.000
− Rp8.000
− Rp4.000
− Rp7.000
− Rp2.000
− Rp1.000
=
Rp13.000/botol
Jadi:
8.000 botol × Rp13.000
=
Rp104 juta
Tetapi setelah biaya campaign tertentu dan overhead terkait channel diperhitungkan, kontribusinya turun menjadi sekitar:
Rp68 juta.
Sementara Moisturizer yang terjual lebih sedikit menghasilkan contribution profit yang jauh lebih besar.
B — BOTTLENECK
Bottleneck dalam kasus ini bukan:
"Produk serum kurang laku."
Justru sebaliknya.
Masalahnya adalah:
Perusahaan mengukur keberhasilan produk berdasarkan volume penjualan, bukan profit contribution.
Akibatnya perusahaan berpotensi melakukan kesalahan:
Produk laris
↓
Budget iklan ditambah
↓
Volume semakin besar
↓
Diskon semakin besar
↓
CAC meningkat
↓
Margin semakin tipis
↓
Profit tidak ikut naik.
Dengan kata lain:
Perusahaan bisa semakin sibuk menjual produk yang sebenarnya kurang menguntungkan.
I — IMPROVE
Langkah pertama bukan menghentikan serum.
Karena serum tetap memiliki fungsi penting:
Menarik customer baru.
Memiliki volume tinggi.
Bisa menjadi entry product.
Bisa menjadi produk yang memperkenalkan brand.
Yang diperbaiki adalah:
1. Pricing
Kurangi ketergantungan pada diskon.
2. Bundle
Serum dijadikan:
Serum + Moisturizer
atau
Serum + Sunscreen
Tujuannya meningkatkan:
Average Order Value.
3. Upsell
Customer yang membeli serum diarahkan ke produk margin lebih tinggi.
Misalnya:
"Kalau ingin paket perawatan lengkap, bisa sekalian tambahkan moisturizer."
4. Advertising
Jangan hanya melihat:
ROAS.
Periksa juga:
Contribution Profit setelah biaya iklan.
Karena ROAS tinggi belum tentu profit tinggi.
5. Product Mix
Sales tidak lagi hanya mengejar produk terlaris.
Tetapi diarahkan menjual:
kombinasi produk yang menghasilkan profit terbaik.
S — SYSTEMIZE
Kemudian dibuat:
Product Profitability Dashboard
Setiap produk memiliki data:
Revenue
Berapa omzetnya?
COGS
Berapa biaya produknya?
Gross Profit
Berapa profit setelah biaya langsung?
Marketing Cost
Berapa biaya mendapatkan penjualan?
Discount
Berapa margin yang dikorbankan?
Return
Berapa nilai yang hilang akibat retur/refund?
Contribution Profit
Berapa yang benar-benar disumbangkan produk terhadap bisnis?
Produk Kemudian Dibagi Menjadi 4 Kategori
🟢 STAR
Laris + Profit Tinggi
→ Scale.
🔵 CASH COW
Laris + Profit Stabil
→ Pertahankan dan optimalkan.
🟡 OPPORTUNITY
Tidak terlalu laris + Profit Tinggi
→ Cari cara meningkatkan penjualan.
🔴 PROBLEM
Tidak laris + Profit Rendah
→ Evaluasi, reposition, bundling, atau hentikan.
Dengan cara ini:
Produk tidak lagi dinilai hanya dari "laris atau tidak".
O — OPTIMIZE
Setelah 6 bulan dilakukan perubahan.
Serum:
8.000 → 7.000 unit
Penjualannya justru sedikit turun.
Tetapi karena:
Diskon berkurang.
Bundle meningkat.
AOV naik.
CAC lebih efisien.
Contribution profit serum:
Rp68 juta → Rp91 juta
Sementara Moisturizer:
Rp112 juta → Rp145 juta
Dan Sunscreen:
Rp105 juta → Rp132 juta
Hasil akhirnya:
Profit perusahaan meningkat meskipun produk paling laris tidak mengalami pertumbuhan volume besar.
N — NEXT GROWTH
Setelah membaca profit per produk, strategi pertumbuhan menjadi lebih jelas.
Serum
Tetap digunakan sebagai:
Entry Product
Moisturizer
Dijadikan:
Profit Driver
Sunscreen
Dijadikan:
Growth Product
Night Cream
Diuji sebagai:
Premium Upsell
Sekarang perusahaan tidak lagi bertanya:
"Produk mana yang paling laku?"
Tetapi:
"Produk mana yang paling tepat untuk fungsi tertentu dalam mesin bisnis?"
Karena sebuah produk bisa memiliki fungsi berbeda:
Acquisition Product
→ menarik customer.
Revenue Product
→ menghasilkan omzet.
Profit Product
→ menghasilkan margin.
Retention Product
→ membuat customer kembali.
Upsell Product
→ meningkatkan nilai transaksi.
ONE PAGE SUMMARY
| Wibisono Method | Temuan / Solusi |
|---|---|
| WATCH | Brightening Serum paling laris dengan 8.000 unit/bulan |
| INVESTIGATION | Setelah discount, marketing, packaging, return dan biaya terkait dihitung, profit contribution serum ternyata tidak terbesar |
| BOTTLENECK | Perusahaan menilai produk berdasarkan volume, bukan contribution profit |
| IMPROVE | Pricing, bundle, upsell, advertising dan product mix diperbaiki |
| SYSTEMIZE | Product Profitability Dashboard dan klasifikasi produk |
| OPTIMIZE | Profit contribution serum naik Rp68 jt → Rp91 jt meski volume turun |
| NEXT GROWTH | Scale produk berdasarkan fungsi: acquisition, revenue, profit, retention dan upsell |
Cara Sederhana Menghitung Profit per Produk
Jangan berhenti di:
Harga Jual − HPP = Profit
Itu baru:
Gross Profit.
Untuk mengambil keputusan bisnis, gunakan pendekatan yang lebih lengkap:
Contribution Profit
Harga Jual
− HPP
− Discount
− Komisi
− Biaya iklan langsung
− Packaging tambahan
− Subsidi pengiriman
− Return/Refund
− biaya variabel lain
=
Contribution Profit
Kemudian hitung:
Contribution Margin
Contribution Profit ÷ Revenue × 100%
Misalnya:
Harga jual:
Rp80.000
Contribution profit:
Rp13.000
Maka:
Rp13.000 ÷ Rp80.000 × 100% = 16,25%
Angka inilah yang jauh lebih berguna ketika menentukan:
produk mana yang harus di-scale.
Inti Wibisono Method
Jangan bertanya hanya: "Produk mana yang paling laris?"
Tanyakan:
1. Produk mana yang paling banyak menghasilkan omzet?
2. Produk mana yang paling besar contribution profit-nya?
3. Produk mana yang paling tinggi marginnya?
4. Produk mana yang paling mahal biaya mendapatkannya?
5. Produk mana yang paling banyak menghasilkan repeat order?
6. Produk mana yang paling bagus untuk upsell?
Karena:
Produk paling laris belum tentu produk paling menguntungkan.
Dan produk yang tidak paling laris pun belum tentu tidak penting.
Yang perlu ditemukan adalah:
PERAN SETIAP PRODUK DALAM MESIN BISNIS.
Dengan Wibisono Method:
WATCH
→ Lihat performa nyata.
INVESTIGATION
→ Bongkar biaya dan profit per produk.
BOTTLENECK
→ Temukan produk/struktur yang menghambat profit.
IMPROVE
→ Perbaiki pricing, mix, bundle dan channel.
SYSTEMIZE
→ Buat dashboard profit per produk.
OPTIMIZE
→ Scale yang terbukti profitable.
NEXT GROWTH
→ Kembangkan portfolio berdasarkan fungsi setiap produk.
Prinsip akhirnya:
Jangan scale produk hanya karena produk itu laris.
Scale produk karena Anda tahu bagaimana produk itu menghasilkan uang.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar