Omzet Terlihat Bagus tetapi Cash Flow Kacau
Ada bisnis yang dari luar terlihat sangat sehat.
Omzet naik.
Customer bertambah.
Order masuk terus.
Tetapi owner justru sering berkata:
"Omzet ada, tapi setiap bulan selalu bingung bayar supplier, gaji, dan cicilan."
Di sinilah Wibisono Method tidak berhenti pada angka omzet.
WATCH — Apa yang terjadi?
Kita lihat bukan hanya revenue, tetapi:
Omzet
Gross profit
Net profit
Cash masuk
Cash keluar
Piutang
Hutang supplier
Stok
Cicilan
Cash balance
Misalnya:
Omzet: Rp1,5 M/bulan
Profit: Rp150 juta/bulan
Tetapi cash selalu menipis menjelang akhir bulan.
Berarti ada masalah yang harus ditelusuri.
INVESTIGATION — TRACE
Kita telusuri aliran uang.
Ternyata:
Customer membayar 60 hari setelah barang diterima.
Supplier harus dibayar 14 hari.
Perusahaan membeli stok terlalu banyak.
Ada beberapa piutang yang terlambat.
Cicilan jatuh tempo setiap bulan.
Pengeluaran operasional tidak mengikuti jadwal cash-in.
Jadi masalahnya bukan:
"Omzet kurang."
Tetapi ada ketidaksesuaian antara timing uang masuk dan uang keluar.
BOTTLENECK — FOCUS
Dari banyak masalah tersebut, kita cari satu yang paling membatasi.
Misalnya ditemukan:
Bottleneck utama adalah cash conversion cycle yang terlalu panjang karena piutang customer jauh lebih lama daripada tempo pembayaran supplier.
Akibatnya:
Penjualan naik → kebutuhan modal kerja naik → piutang bertambah → cash semakin tertekan.
Ironisnya, semakin besar bisnisnya, semakin besar pula kebutuhan cash-nya.
IMPROVE — SOLVE
Jangan langsung mencari tambahan modal.
Perbaiki terlebih dahulu:
Negosiasi termin supplier.
Perketat syarat pembayaran customer.
Naikkan DP.
Percepat collection.
Buat reminder otomatis.
Kurangi stok yang terlalu lama bergerak.
Pisahkan cash untuk operasional, pajak, cicilan dan profit.
Targetnya:
Omzet bukan hanya naik, tetapi berubah menjadi cash lebih cepat.
SYSTEMIZE — SCALE
Buat sistem cash flow:
Order → DP → Produksi → Delivery → Invoice → Collection → Lunas
Setiap tahap memiliki:
PIC + deadline + KPI.
Buat dashboard sederhana yang menunjukkan:
Cash In | Cash Out | Piutang | Hutang | Cash Balance | Forecast
Dengan begitu owner tidak lagi mengetahui masalah setelah rekening kosong.
OPTIMIZE — TUNE
Setelah sistem berjalan, optimalkan:
Days Sales Outstanding
Days Inventory
Days Payable
Cash Conversion Cycle
Gross Margin
Operating Expenses
Tujuannya:
Cash masuk lebih cepat, cash keluar lebih terkendali, dan modal kerja semakin efisien.
NEXT GROWTH — GROW
Setelah cash flow sehat, barulah perusahaan lebih aman untuk:
meningkatkan penjualan,
menambah kapasitas,
membuka cabang,
menambah produk,
masuk pasar baru.
Karena:
Growth yang tidak didukung cash flow bisa berubah menjadi masalah baru.
ONE PAGE SUMMARY — RINGKAS
R — Ringkasan Bisnis
Omzet terlihat sehat, tetapi arus kas tidak stabil.
I — Indikator
Revenue tinggi, tetapi cash balance sering menipis.
N — Nilai & Kondisi
Bisnis profitable secara laporan, tetapi membutuhkan modal kerja besar.
G — Ganjalan Utama
Cash conversion cycle terlalu panjang.
K — Keputusan Prioritas
Percepat perubahan penjualan → cash.
A — Aksi
Perbaiki DP, termin, collection, stok dan jadwal pembayaran.
S — Sasaran & Scale
Cash flow stabil terlebih dahulu, kemudian scale bisnis.
Wibisono Verdict
Masalahnya belum tentu kurang omzet. Bisa jadi uangnya masuk terlalu lambat sementara uang keluar terlalu cepat.
Itulah mengapa dalam Wibisono Method:
WATCH → TRACE → FOCUS → SOLVE → SCALE → TUNE → GROW → RINGKAS
Bisnis yang sehat bukan hanya bisnis yang banyak menjual, tetapi bisnis yang mampu mengubah penjualan menjadi cash secara sehat.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar