Owner Sibuk Seharian tetapi Bisnis Tidak Bisa Jalan Tanpa Dirinya? Mungkin Masalahnya Bukan Kurang SDM, tetapi Kurang Sistem
Setiap pagi owner datang paling awal.
Cek WhatsApp.
Telepon supplier.
Cek pekerjaan karyawan.
Menyetujui pembelian.
Menangani komplain customer.
Mengecek laporan penjualan.
Sore belum selesai.
Malam masih ada WhatsApp dari karyawan:
“Pak, ini bagaimana?”
Besok paginya…
ulang lagi.
Sekilas owner merasa:
“Saya ini kurang orang.”
Lalu mulai merekrut.
Tambah 1 orang.
Tambah 2 orang.
Tambah 5 orang.
Tetapi anehnya…
owner tetap sibuk.
Bahkan semakin banyak karyawan, semakin banyak pertanyaan yang masuk.
KISAHNYA
Ada sebuah perusahaan distributor dengan omzet sekitar Rp1,5 miliar per bulan.
Timnya sudah lebih dari 20 orang.
Secara ukuran, sebenarnya perusahaan ini sudah cukup besar.
Tetapi ketika owner ingin mengambil cuti selama 7 hari, dia mulai panik.
Pertanyaan pertama:
“Kalau saya tidak ada, siapa yang mengambil keputusan?”
Dan ternyata…
hampir semua keputusan masih menunggu owner.
Sales bertanya:
“Harga khusus customer ini boleh berapa, Pak?”
Admin:
“Invoice ini bagaimana, Pak?”
Gudang:
“Barang ini boleh dikirim atau tidak?”
Finance:
“Customer ini boleh diberi tempo atau tidak?”
Bahkan masalah kecil pun:
“Pak, bagaimana?”
Owner akhirnya berkata:
“Saya punya 20 karyawan, tetapi rasanya saya bekerja untuk 20 karyawan.”
Di sinilah kami mulai menggunakan Wibisono Method.
W — WATCH
Kami tidak langsung mengatakan:
“Tambah SDM.”
Kami melihat fakta.
Ternyata owner menghabiskan sekitar:
8–10 jam sehari
untuk pekerjaan yang sebagian besar sebenarnya bisa didelegasikan.
Masalahnya bukan jumlah pekerjaan.
Masalahnya:
Terlalu banyak keputusan berhenti di owner.
I — INVESTIGATE
Kami kemudian mengikuti alur kerja perusahaan.
Dan menemukan pola:
Karyawan bekerja → menemui masalah → bertanya owner → owner menjawab → pekerjaan lanjut.
Semua jalan menuju satu titik:
OWNER.
Bahkan pekerjaan yang sama ditanyakan berulang kali karena jawabannya hanya tersimpan di kepala owner.
Tidak ada:
SOP
batas kewenangan
checklist
workflow
knowledge base
KPI yang jelas
B — BOTTLENECK
Di sinilah ditemukan bottleneck:
Bukan kurang SDM.
Bukan karyawan malas.
Tetapi sistem pengambilan keputusan terlalu bergantung kepada owner.
Perusahaan sebenarnya memiliki orang.
Yang tidak dimiliki adalah:
Sistem yang membuat orang tahu apa yang harus dilakukan tanpa selalu bertanya kepada owner.
I — IMPROVE
Kami mulai dari keputusan yang paling sering ditanyakan.
Misalnya:
Discount customer ≤ 5%
→ Sales boleh memutuskan.
Discount 5–10%
→ Supervisor.
Discount >10%
→ Owner.
Kemudian dibuat SOP untuk:
pembelian
retur
komplain
approval discount
pembayaran
pengiriman
customer baru
piutang
Perlahan…
Pertanyaan yang tadinya masuk ke owner mulai berhenti di level yang seharusnya.
S — SYSTEMIZE
Setiap proses kemudian dibuat menjadi:
SOP → CHECKLIST → KPI → PIC → DEADLINE
Dan pengetahuan owner yang selama ini hanya ada di kepala mulai dipindahkan menjadi:
dokumen + video + template + CRM + dashboard.
Tujuannya sederhana:
Kalau owner tidak ada, sistem tetap bisa bekerja.
O — OPTIMIZE
Setelah beberapa bulan, owner mulai mengukur:
Berapa keputusan yang masih membutuhkan saya?
Awalnya:
80% keputusan → owner
Kemudian:
50%
Lalu:
25%
Target berikutnya:
<10% keputusan operasional membutuhkan owner.
Owner tidak lagi sibuk memadamkan masalah kecil.
Waktunya mulai digunakan untuk:
strategi
mencari peluang
membangun partnership
mengembangkan produk
meningkatkan profit
merancang ekspansi
N — NEXT GROWTH
Dan akhirnya muncul pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah bisa dijawab:
“Kalau saya buka cabang kedua, apakah saya harus berada di sana setiap hari?”
Sekarang jawabannya:
Tidak.
Karena yang dipindahkan bukan hanya orang.
Tetapi:
SISTEM.
Ada satu perubahan besar dalam cara berpikir owner:
Sebelumnya:
“Bagaimana membuat karyawan bekerja?”
Kemudian berubah menjadi:
“Bagaimana membuat sistem membuat pekerjaan berjalan?”
Ini perbedaan antara:
OWNER YANG MEMILIKI PEKERJAAN
dan
OWNER YANG MEMILIKI BISNIS.
Bisnis yang sehat bukan bisnis yang owner-nya paling sibuk.
Tetapi bisnis yang tetap berjalan ketika owner tidak berada di tempat.
Wibisono Method
WATCH → INVESTIGATE → BOTTLENECK → IMPROVE → SYSTEMIZE → OPTIMIZE → NEXT GROWTH
Jangan buru-buru tambah SDM.
Pastikan dulu sistemnya mampu membuat SDM yang ada bekerja dengan benar.
Karena kalau sistemnya masih bocor…
menambah orang hanya akan membuat kebocorannya menjadi lebih mahal.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar