Sudah Tambah Karyawan tetapi Masalah Tetap Sama

Contoh Kasus

Sebuah perusahaan distributor bahan bangunan memiliki masalah yang sudah berlangsung hampir dua tahun.

Order cukup banyak, tetapi pengiriman sering terlambat.

Customer mulai komplain.

Sales menyalahkan gudang.

Gudang menyalahkan admin.

Admin mengatakan data order dari sales sering berubah.

Owner kemudian mengambil kesimpulan:

"Berarti kita kekurangan orang."

Akhirnya perusahaan merekrut:

  • 2 admin

  • 3 orang gudang

  • 2 driver

Total 7 karyawan baru.

Biaya gaji bertambah sekitar Rp45 juta per bulan.

Owner berharap masalah pengiriman selesai.

Ternyata tiga bulan kemudian...

masalah yang sama masih terjadi.

Order masih terlambat.

Customer masih komplain.

Gudang masih kewalahan.

Admin masih sering lembur.

Owner akhirnya berkata:

"Orang sudah ditambah, kenapa masalahnya tidak selesai?"

Di sinilah Wibisono Method mulai membongkar masalah sebenarnya.


W — WATCH

Melihat fakta, bukan asumsi

Data menunjukkan:

  • Karyawan sebelum penambahan: 32 orang

  • Setelah penambahan: 39 orang

  • Biaya payroll meningkat

  • Jumlah order relatif sama

  • Pengiriman masih sering terlambat

  • Banyak order harus dikoreksi

  • Sales sering mengubah pesanan setelah masuk gudang

  • Gudang masih menggunakan pencatatan manual

  • Tidak ada sistem prioritas order

  • Tidak ada satu dashboard yang menunjukkan status setiap order

Artinya:

Jumlah karyawan bertambah 22%, tetapi output sistem hampir tidak berubah.

Ini tanda bahwa perusahaan kemungkinan besar bukan kekurangan orang.


I — INVESTIGATION

Cari tahu mengapa orang tambahan tidak menyelesaikan masalah

Kemudian dilakukan investigasi.

Kepada Sales

"Kenapa order sering berubah?"

Jawaban:

"Customer kadang minta perubahan setelah order masuk."

Kepada Admin

"Apa yang paling membuat pekerjaan lambat?"

Jawaban:

"Kami sering harus mengoreksi data order."

Kepada Gudang

"Apa yang paling menghambat?"

Jawaban:

"Kami sering menerima order yang informasinya belum lengkap."

Kepada Driver

"Apa yang membuat pengiriman terlambat?"

Jawaban:

"Kadang kami sudah siap jalan, tetapi barang belum selesai."

Kemudian ditelusuri alurnya:

Customer

Sales

Admin

Gudang

Packing

Driver

Ternyata masalah terjadi karena informasi order berpindah dari satu orang ke orang lain tanpa sistem yang jelas.


B — BOTTLENECK

20 masalah ternyata 1 bottleneck

Owner sebelumnya melihat:

  1. Admin kurang.

  2. Gudang kurang.

  3. Driver kurang.

  4. Sales kurang disiplin.

  5. Order terlalu banyak.

  6. Customer sering mengubah order.

  7. Pengiriman terlambat.

  8. Gudang lembur.

  9. Admin lembur.

  10. Banyak komplain.

  11. Banyak kesalahan input.

  12. Barang salah kirim.

  13. Packing terlambat.

  14. Driver menunggu.

  15. Sales menyalahkan gudang.

  16. Gudang menyalahkan sales.

  17. Customer service kewalahan.

  18. Payroll meningkat.

  19. Owner harus turun tangan.

  20. Masalah tidak kunjung selesai.

Tetapi setelah dibongkar:

Bottleneck-nya bukan jumlah karyawan.

Bottleneck-nya adalah alur order yang tidak memiliki sistem dan standar yang jelas.

Jadi perusahaan selama ini mencoba menyelesaikan masalah sistem dengan menambah manusia.


I — IMPROVE

Perbaiki proses sebelum menambah orang lagi

Perusahaan kemudian merancang ulang proses order.

Sebelumnya:

Sales menerima order

WhatsApp Admin

Admin input

WhatsApp Gudang

Gudang bertanya lagi

Sales dikonfirmasi

Order berubah

Gudang mulai bekerja

Driver menunggu

Banyak titik kebingungan.


Setelah diperbaiki:

Customer Order

Sales Input Form

Order Verification

Order Approved

Warehouse Pick List

Packing

Delivery

Customer Confirmation

Setiap tahap memiliki status yang jelas.


S — SYSTEMIZE

Kemudian dibuat:

1. Order Form

Sales tidak boleh mengirim order dengan format bebas.

Semua informasi wajib tersedia.

2. Order Cut-Off

Perubahan order memiliki batas waktu.

3. Dashboard Order

Status terlihat:

New → Verified → Picking → Packing → Ready → Delivered

4. SOP

Setiap bagian mengetahui:

apa yang harus dilakukan, kapan dilakukan, dan siapa yang bertanggung jawab.

5. KPI

Tidak hanya mengukur:

"Berapa banyak karyawan?"

Tetapi:

  • Order diproses per hari

  • Error order

  • Waktu proses

  • Waiting time

  • On-time delivery

  • Complaint rate


O — OPTIMIZE

Setelah sistem berjalan selama beberapa bulan:

Order error

dari 12% → 4%

On-time delivery

dari 72% → 94%

Waktu proses order

dari 5 jam → 2 jam

Dan yang menarik:

Perusahaan ternyata tidak membutuhkan tambahan 7 karyawan tadi untuk menyelesaikan bottleneck tersebut.

Produktivitas meningkat karena alurnya diperbaiki.


N — NEXT GROWTH

Setelah sistem stabil, perusahaan baru memiliki dasar untuk berkembang.

Misalnya:

Sistem order sudah rapi

Tambah channel penjualan

Tambah customer

Tambah area distribusi

Baru tambah karyawan jika kapasitas benar-benar membutuhkan.

Dengan demikian, karyawan baru masuk ke dalam sistem yang sudah bekerja, bukan masuk untuk membantu sistem yang masih kacau.


ONE PAGE SUMMARY

Wibisono MethodTemuan
WATCHKaryawan bertambah 7 orang tetapi keterlambatan tetap terjadi
INVESTIGATIONBanyak masalah terjadi karena informasi order tidak jelas
BOTTLENECKSistem order dan alur kerja antarbagian tidak terintegrasi
IMPROVEStandarisasi order, approval, picking, packing dan delivery
SYSTEMIZESOP, dashboard order, status pekerjaan dan KPI
OPTIMIZEKurangi error, waiting time dan keterlambatan
NEXT GROWTHScale penjualan setelah sistem operasional stabil

Inti Wibisono Method:

Kalau masalahnya adalah sistem, menambah orang hanya akan membuat lebih banyak orang bekerja di dalam sistem yang sama-sama bermasalah.

Maka sebelum berkata:

"Kita butuh karyawan baru."

tanyakan dulu:

"Apakah kita benar-benar kekurangan orang, atau orang-orang yang ada sedang terjebak dalam proses kerja yang buruk?"

Karena:

Tambah orang ≠ otomatis tambah produktivitas.

Perbaiki bottleneck → produktivitas naik → baru scale.

Konsultasi untuk optimasi usaha hub no WA yang tercantum di blog ini.

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar