Wibisono Method: Cara Membongkar Kebocoran Sales dari Lead sampai Closing Sebelum Memutuskan Menambah Tim Sales
Ada sebuah perusahaan yang datang dengan keluhan:
“Sales kami kurang. Kalau mau omzet naik, sepertinya harus tambah 5 orang sales lagi.”
Sekilas masuk akal.
Tetapi sebelum merekrut orang baru, kami membongkar perjalanan customer:
LEAD → CONTACT → RESPON → FOLLOW-UP → PRESENTASI → NEGOSIASI → CLOSING
Dan ternyata...
Masalahnya bukan kekurangan sales.
W — WATCH
Kami mulai dari angka.
Dalam 1 bulan:
Lead masuk: 1.000
Berhasil dihubungi: 800
Merespons: 600
Masuk tahap presentasi: 300
Penawaran: 200
Closing: 20
Secara sederhana:
1.000 lead → hanya 20 customer.
Conversion rate:
2%
Owner langsung berkata:
“Berarti kita butuh lebih banyak lead.”
Tapi kami belum menyimpulkan itu.
I — INVESTIGATE
Kami kemudian melihat apa yang terjadi di setiap tahap.
Ternyata:
Dari 1.000 lead, ada 200 lead yang baru dihubungi lebih dari 24 jam setelah masuk.
Dari 600 orang yang merespons, banyak yang hanya mendapatkan 1 kali follow-up.
Dan dari 300 orang yang sudah mendapatkan presentasi, sales tidak memiliki standar follow-up yang sama.
Ada sales yang follow-up:
1 kali.
Ada yang:
2 kali.
Ada yang:
7 kali.
Tidak ada sistem.
B — BOTTLENECK
Kami menemukan sesuatu yang menarik.
Kalau 1.000 lead menghasilkan 20 closing, owner berpikir:
“Saya butuh lebih banyak sales.”
Tetapi setelah dibedah:
Bottleneck terbesar ternyata bukan jumlah sales.
Melainkan:
KEBOCORAN FOLLOW-UP.
Lead sudah dibayar.
Lead sudah masuk.
Customer sudah menunjukkan ketertarikan.
Tetapi sebagian besar tidak dikelola sampai keputusan pembelian.
I — IMPROVE
Kami tidak langsung merekrut sales baru.
Kami memperbaiki proses terlebih dahulu.
Dibuat:
Lead masuk → respon maksimal 5 menit
Kemudian:
Hari 0 → follow-up
Hari 1 → follow-up
Hari 3 → follow-up
Hari 7 → follow-up
Hari 14 → follow-up
Sales juga diberikan script berdasarkan kondisi customer:
Belum respon
→ pendekatan awareness
Sudah respon tapi ragu
→ gali keberatan
Sudah tertarik tapi belum membeli
→ bangun urgency
Sudah siap membeli
→ closing
S — SYSTEMIZE
Setelah proses terbukti lebih efektif, semuanya dimasukkan ke dalam sistem:
CRM + SOP + Dashboard
Setiap lead harus mempunyai status:
NEW → CONTACTED → INTERESTED → PRESENTATION → OFFER → NEGOTIATION → WON/LOST
Tidak boleh ada lead yang:
“Hilang entah ke mana.”
Owner akhirnya bisa melihat:
Sales A: 200 lead → 10 closing
Sales B: 200 lead → 3 closing
Sales C: 200 lead → 2 closing
Sekarang masalah sales bisa dilihat berdasarkan data.
Bukan berdasarkan perasaan.
O — OPTIMIZE
Setelah beberapa minggu, hasilnya berubah.
Tanpa menambah jumlah sales.
Lead: 1.000
Closing: dari 20 → 35
Conversion naik:
2% → 3,5%
Artinya perusahaan mendapatkan tambahan:
15 customer
tanpa harus membayar:
recruitment baru
training sales baru
gaji tambahan
insentif tambahan
N — NEXT GROWTH
Barulah setelah sistem sales mulai sehat, kita bertanya:
“Apakah memang sekarang kita membutuhkan tambahan sales?”
Kalau kapasitas lead sudah terlalu besar dan sales existing sudah mendekati kapasitas maksimal, barulah rekrutmen masuk akal.
Bukan sebaliknya.
Inilah cara berpikir Wibisono Method:
Jangan langsung berkata:
“Omzet kurang → tambah sales.”
Tetapi bongkar dulu:
LEAD
Apakah jumlahnya cukup?
↓
CONTACT
Apakah semua lead dihubungi?
↓
RESPON
Seberapa cepat?
↓
FOLLOW-UP
Berapa kali?
↓
PRESENTASI
Apakah penawarannya tepat?
↓
NEGOSIASI
Apa keberatan terbesar?
↓
CLOSING
Di titik mana customer berhenti?
Karena setiap kebocoran punya solusi yang berbeda.
Lead kurang?
→ perbaiki acquisition.
Respon lambat?
→ perbaiki speed-to-lead.
Follow-up lemah?
→ SOP + CRM.
Banyak presentasi tapi sedikit closing?
→ perbaiki offer dan sales skill.
Banyak negosiasi tapi gagal?
→ bedah objection dan value proposition.
Sales sudah overload?
→ baru pertimbangkan tambah tim.
Jangan tambah orang untuk menutupi sistem yang bocor.
Cari kebocorannya.
Perbaiki titiknya.
Baru scale timnya.
Itulah Wibisono Method.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar