SOP Sales untuk Membuat Tim Memiliki Proses Follow Up dan Closing yang Lebih Terukur
Banyak owner merasa sales mereka kurang bagus.
Tetapi ketika ditanya:
"Seperti apa sebenarnya proses kerja sales Anda?"
Jawabannya sering:
"Ya, mereka cari customer, presentasi, lalu closing."
Masalahnya, itu bukan sistem.
Setiap sales akhirnya bekerja dengan gaya masing-masing.
Sales A rajin follow-up.
Sales B hanya menghubungi ketika customer bertanya.
Sales C berhenti setelah mengirim quotation.
Akibatnya performa sulit dikontrol.
Di sinilah SOP sales diperlukan.
W — Watch
Mulailah dengan melihat angka.
Ukur:
jumlah leads,
response time,
jumlah kontak,
jumlah follow-up,
quotation,
negotiation,
closing,
conversion rate,
dan alasan customer tidak membeli.
Jangan hanya melihat omzet per sales.
Lihat proses yang menghasilkan omzet tersebut.
I — Investigate
Misalnya dari 100 leads:
80 dihubungi.
50 mendapatkan penawaran.
20 melakukan negosiasi.
5 closing.
Di mana masalahnya?
Jika banyak leads hilang sebelum penawaran, masalah ada di qualification atau komunikasi awal.
Jika banyak quotation tetapi sedikit closing, masalah mungkin ada di value proposition, harga, negosiasi atau follow-up.
B — Bottleneck
Cari satu titik terbesar.
Misalnya:
Sales hanya melakukan satu kali follow-up.
Maka jangan buru-buru menambah leads.
Perbaiki follow-up terlebih dahulu.
Buat standar follow-up.
I — Improve
Contoh SOP sales:
Tahap 1 — Lead masuk
Lead dicatat.
Tahap 2 — Contact
Sales menghubungi customer.
Tahap 3 — Qualification
Cari tahu:
kebutuhan,
budget,
waktu pembelian,
pengambil keputusan,
dan masalah yang ingin diselesaikan.
Tahap 4 — Presentation
Berikan solusi sesuai kebutuhan.
Tahap 5 — Proposal
Kirim penawaran.
Tahap 6 — Follow-up
Lakukan follow-up sesuai jadwal.
Tahap 7 — Negotiation
Tangani keberatan.
Tahap 8 — Closing
Konfirmasi transaksi.
Tahap 9 — Post Sales
Pastikan customer mendapatkan pelayanan setelah pembelian.
S — Systemize
Masukkan proses tersebut ke CRM.
Setiap customer mempunyai status:
New Lead → Contacted → Qualified → Proposal → Negotiation → Closing → Repeat.
Dengan demikian owner dapat melihat pipeline.
Tidak perlu bertanya:
"Customer Pak Andi sudah sampai mana?"
Cukup lihat sistem.
O — Optimize
Ukur conversion rate setiap tahap.
Misalnya:
Lead → Contact: 90%.
Contact → Qualified: 60%.
Qualified → Proposal: 70%.
Proposal → Closing: 20%.
Jika proposal-to-closing rendah, fokuskan perbaikan di sana.
Inilah yang membuat sales management menjadi ilmiah.
N — Next Growth
Setelah conversion rate membaik, barulah jumlah leads dinaikkan.
Jangan menambah leads ketika funnel masih bocor.
Perbaiki kebocoran terlebih dahulu.
Kemudian scale.
O — One Page Summary
Watch: Ukur seluruh tahapan sales funnel.
Investigate: Cari di tahap mana customer paling banyak hilang.
Bottleneck: Tentukan titik kebocoran terbesar.
Improve: Perbaiki proses komunikasi dan follow-up.
Systemize: Gunakan SOP dan CRM.
Optimize: Ukur conversion setiap tahap.
Next Growth: Scale leads setelah funnel lebih sehat.
Kesimpulan:
Sales yang hebat bukan hanya sales yang pandai berbicara. Sales yang kuat adalah sales yang mempunyai proses kerja yang dapat diukur, diulang dan diperbaiki.
106. SOP Penjualan: Panduan Menyusun Tahapan dari Lead Masuk hingga Customer Melakukan Pembelian
Penjualan sering dianggap sebagai aktivitas yang bergantung pada bakat sales.
Padahal banyak bagian dalam proses penjualan sebenarnya dapat dibuat sistematis.
Mulai dari lead masuk hingga customer membeli.
Dengan SOP penjualan, perusahaan dapat mengetahui apa yang harus dilakukan pada setiap tahapan.
W — Watch
Petakan perjalanan customer.
Contohnya:
Lead → Kontak → Kualifikasi → Presentasi → Penawaran → Follow-up → Negosiasi → Closing.
Kemudian ukur berapa banyak customer yang berpindah dari satu tahap ke tahap berikutnya.
I — Investigate
Cari tahu mengapa customer berhenti.
Misalnya 1.000 leads masuk tetapi hanya 10 yang membeli.
Jangan langsung menyimpulkan bahwa sales buruk.
Cari tahu:
apakah lead sesuai target?
apakah sales cepat merespons?
apakah kebutuhan digali?
apakah penawaran jelas?
apakah follow-up dilakukan?
apakah harga sesuai?
apakah pengambil keputusan sudah terlibat?
B — Bottleneck
Misalnya 500 customer sudah menerima proposal tetapi hanya 20 yang closing.
Berarti ada masalah besar pada tahap setelah proposal.
Mungkin proposal terlalu fokus pada harga.
Mungkin sales tidak melakukan follow-up.
Mungkin customer belum melihat alasan untuk membeli sekarang.
Bottleneck harus ditemukan dari data.
I — Improve
Buat SOP berdasarkan tahapan.
Tahap 1: Lead Masuk
Data dicatat.
Tahap 2: Respons
Customer dihubungi.
Tahap 3: Qualification
Kebutuhan dan kemampuan membeli diperiksa.
Tahap 4: Penawaran
Solusi disesuaikan.
Tahap 5: Follow-up
Jadwal follow-up ditentukan.
Tahap 6: Objection Handling
Keberatan customer dicatat dan ditangani.
Tahap 7: Closing
Transaksi dikonfirmasi.
Tahap 8: Handover
Informasi customer diserahkan kepada operasional.
Dengan SOP seperti ini, penjualan tidak berhenti di closing.
S — Systemize
Gunakan CRM.
Setiap tahap memiliki status.
CRM juga dapat memberikan reminder follow-up.
Misalnya:
Customer belum merespons selama tiga hari → reminder.
Customer menerima quotation → follow-up dijadwalkan.
Customer closing → masuk ke database repeat order.
Sistem membantu mencegah peluang hilang karena kelalaian.
O — Optimize
Hitung conversion rate setiap tahap.
Kemudian lakukan eksperimen.
Misalnya:
Versi proposal A menghasilkan closing 10%.
Versi proposal B menghasilkan closing 15%.
Gunakan data untuk menentukan versi yang lebih efektif.
Inilah proses optimasi.
N — Next Growth
Setelah proses penjualan stabil, perusahaan dapat meningkatkan:
jumlah leads,
jumlah sales,
wilayah pemasaran,
produk,
dan channel.
Karena funnel sudah mempunyai standar.
O — One Page Summary
Watch: Petakan perjalanan customer dari lead sampai pembelian.
Investigate: Cari penyebab customer berhenti di setiap tahap.
Bottleneck: Temukan tahap dengan kebocoran terbesar.
Improve: Perbaiki proses dan komunikasi.
Systemize: Gunakan SOP, CRM dan reminder.
Optimize: Ukur conversion rate dan lakukan eksperimen.
Next Growth: Scale funnel yang sudah terbukti efektif.
Kesimpulan:
SOP penjualan membuat proses menjual tidak lagi menjadi kumpulan aktivitas acak, tetapi menjadi perjalanan customer yang dapat dipetakan, diukur dan dioptimalkan.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar