50 Universal Questions - Watch 3

 Siap. Saya rasa ini bisa kita jadikan alat diagnostik inti Wibisono Method, bukan sekadar daftar pertanyaan.

Kuncinya: 50 pertanyaan ini harus cukup universal untuk lintas industri, tetapi cukup tajam untuk membaca kondisi bisnis.

Dan saya ingin menambahkan satu prinsip:

Owner tidak diminta mendiagnosis bisnisnya. Owner hanya memberikan fakta. Diagnosis dilakukan oleh Wibisono Method.

Jadi kita jangan bertanya, "Apa masalah bisnis Anda?" terlalu banyak. Karena jawaban owner biasanya sudah berupa asumsi.

Kita tanyakan angka, fakta, proses, dan kondisi.


WIBISONO BUSINESS DIAGNOSTIC

50 Universal Questions

W — WUJUD BISNIS

Memahami bentuk dan mesin dasar bisnis

1. Apa produk atau jasa utama yang dijual?

2. Siapa 3 kelompok pelanggan terbesar Anda?

3. Dari mana pelanggan biasanya mengetahui bisnis Anda?

4. Apa alasan utama pelanggan memilih Anda dibanding kompetitor?

5. Produk/jasa apa yang paling banyak terjual?

6. Produk/jasa apa yang memberikan profit terbesar?

7. Berapa lama bisnis ini sudah berjalan?


I — INCOME

Membaca mesin pendapatan

8. Berapa omzet rata-rata per bulan selama 12 bulan terakhir?

9. Berapa omzet tertinggi dalam 12 bulan terakhir?

10. Berapa omzet terendah dalam 12 bulan terakhir?

11. Bagaimana tren omzet 12 bulan terakhir: naik, turun, atau stagnan?

12. Berapa rata-rata nilai transaksi/customer?

13. Berapa jumlah transaksi atau customer per bulan?

14. Berapa persen omzet berasal dari customer baru dan customer lama?


B — BIAYA

Melihat berapa mahal bisnis menghasilkan uang

15. Berapa HPP atau direct cost rata-rata?

16. Berapa gross profit atau gross margin?

17. Berapa total biaya operasional per bulan?

18. Berapa biaya marketing dan sales per bulan?

19. Berapa total biaya SDM per bulan?

20. Produk/jasa mana yang paling besar marginnya?


I — INDIKATOR

Melihat angka-angka di sepanjang funnel bisnis

21. Berapa leads/inquiry yang masuk setiap bulan?

22. Berapa persen leads yang menjadi prospek serius?

23. Berapa persen prospek yang menjadi customer?

24. Berapa Customer Acquisition Cost (CAC)?

25. Berapa repeat order rate?

26. Berapa jumlah customer aktif saat ini?

27. Berapa jumlah customer yang hilang/tidak kembali dalam 12 bulan terakhir?


S — SALES

Membedah kemampuan perusahaan mendapatkan revenue

28. Apa tiga channel penjualan terbesar?

29. Channel mana yang menghasilkan omzet terbesar?

30. Channel mana yang menghasilkan profit terbesar?

31. Berapa jumlah salesperson atau orang yang bertanggung jawab atas penjualan?

32. Berapa target sales dan berapa pencapaiannya?

33. Berapa lama rata-rata waktu dari inquiry sampai closing?

34. Berapa persen penjualan yang masih bergantung pada owner?


O — OPERASIONAL

Melihat kemampuan bisnis memenuhi janji kepada customer

35. Berapa kapasitas maksimal produksi/pelayanan per bulan?

36. Berapa kapasitas yang saat ini digunakan?

37. Berapa lama rata-rata proses dari order sampai selesai?

38. Berapa tingkat keterlambatan, kesalahan, retur, atau rework?

39. Berapa jumlah komplain customer per bulan?

40. Apakah proses utama bisnis sudah memiliki SOP yang tertulis dan digunakan?


N — NUMBERS

Membaca kesehatan finansial sebenarnya

41. Berapa net profit rata-rata per bulan?

42. Berapa cash yang tersedia saat ini?

43. Berapa total piutang yang belum tertagih?

44. Berapa total hutang dan kewajiban bisnis?

45. Berapa kebutuhan cash minimum bisnis setiap bulan?

46. Jika tidak ada penjualan baru selama 3 bulan, apakah bisnis masih mampu bertahan?


O — OUTLOOK

Melihat arah masa depan bisnis

47. Apa target omzet dan profit 12 bulan ke depan?

48. Apa hambatan terbesar yang menurut Anda menghalangi target tersebut?

49. Jika tidak ada perubahan dalam bisnis selama 12 bulan ke depan, apa yang kemungkinan terjadi?

50. Jika hanya boleh memperbaiki satu hal dalam bisnis ini dalam 90 hari ke depan, hal apa yang paling ingin Anda perbaiki?


Tapi jangan berhenti di 50 pertanyaan.

Di sinilah menurut saya Wibisono Method mulai berbeda dari questionnaire biasa.

Jawaban 50 pertanyaan tersebut harus kita ubah menjadi Business Diagnostic Engine.

Jadi alurnya:

OWNER

↓
50 QUESTIONS

↓
BUSINESS SNAPSHOT

↓
RED FLAGS

↓
PATTERN

↓
CANDIDATE BOTTLENECK

↓
INVESTIGATION

↓
Bottleneck sebenarnya


1. BUSINESS SNAPSHOT

Dari 50 jawaban, kita otomatis membuat satu halaman:

WIBISONO BUSINESS SNAPSHOT

Area

Kondisi

Business Model

...

Customer

...

Revenue

Rp...

Revenue Growth

...%

Average Order Value

Rp...

Gross Margin

...%

Net Profit

Rp...

Leads

.../bulan

Conversion

...%

CAC

Rp...

Repeat Order

...%

Capacity Utilization

...%

Complaint

.../bulan

Cash

Rp...

Receivable

Rp...

Debt

Rp...

Owner Dependency

...%

Target 12 Bulan

Rp...

Dengan satu halaman ini, seorang konsultan bisa mendapatkan gambaran pertama perusahaan dalam beberapa menit.


2. RED FLAG ENGINE

Kemudian kita beri tanda terhadap jawaban tertentu.

Misalnya:

🔴 Revenue Red Flag

Omzet:

Rp500 juta → Rp450 juta → Rp400 juta → Rp350 juta

Artinya bukan sekadar:

"Omzet Rp350 juta."

Tetapi:

Revenue sedang mengalami tren penurunan.


🔴 Margin Red Flag

Omzet:

Rp1 Miliar

Gross Profit:

Rp100 juta

Gross Margin:

10%

Maka:

Bisnis mungkin memiliki masalah pricing, HPP, product mix, atau operational efficiency.

Belum boleh menyimpulkan penyebab.

Itu tugas Investigation.


🔴 Sales Red Flag

Leads:

1.000

Closing:

20

Conversion:

2%

Maka kita tandai:

Potential Sales Conversion Bottleneck

Bukan langsung:

"Sales jelek."


🔴 Marketing Red Flag

Leads:

50/bulan

Target:

200/bulan

Maka:

Potential Demand Generation Bottleneck


🔴 Operational Red Flag

Capacity:

1.000 unit

Actual:

950 unit

Utilization:

95%

Sementara demand:

1.500 unit.

Maka:

Potential Capacity Bottleneck

Ini menarik.

Karena kalau hanya melihat omzet, orang mungkin berpikir:

"Marketing harus ditambah."

Padahal justru:

Operasional harus diperbesar terlebih dahulu.


🔴 Cash Flow Red Flag

Profit:

Rp100 juta

Cash:

Rp10 juta

Piutang:

Rp500 juta

Ini sangat menarik.

Bisnis bisa terlihat profitable, tetapi cash-poor.

Maka kandidat masalah:

Potential Cash Conversion Bottleneck


3. OWNER DEPENDENCY SCORE

Saya juga ingin memasukkan satu indikator khusus.

Karena banyak bisnis sebenarnya bukan perusahaan.

Tetapi:

Owner + beberapa orang yang membantu owner.

Pertanyaan #34:

Berapa persen penjualan masih bergantung pada owner?

Kemudian bisa kita perluas:

· 

Sales bergantung owner?

· 

· 

Approval bergantung owner?

· 

· 

Purchasing bergantung owner?

· 

· 

Customer complaint bergantung owner?

· 

· 

Keuangan bergantung owner?

· 

· 

Rekrutmen bergantung owner?

· 

Misalnya:

Owner Dependency = 80%

Maka kita tandai:

🔴 Owner Dependency Risk

Ini bisa menjadi kandidat bottleneck yang sangat besar ketika bisnis ingin scale.


4. BOTTLENECK CANDIDATE

Setelah 50 jawaban, jangan langsung mengatakan:

"Bottleneck Anda adalah marketing."

Kita buat:

TOP 3 CANDIDATE BOTTLENECK

Contoh:

Kandidat #1

Sales Conversion

Lead: 1.200
Closing: 24
Conversion: 2%

Kandidat #2

Gross Margin

Gross Margin: 12%

Kandidat #3

Cash Flow

Piutang: Rp700 juta
Cash: Rp50 juta

Kemudian kita masuk ke:

INVESTIGATION

Barulah kita mencari:

"Mana yang benar-benar menjadi bottleneck terbesar?"


5. INILAH PEMISAHAN WATCH DAN INVESTIGATION

Ini menurut saya sangat penting untuk Wibisono Method.

WATCH

Apa yang terjadi?

Contoh:

Conversion rate hanya 2%.

INVESTIGATION

Mengapa conversion rate hanya 2%?

Kita gali:

· 

Lead berkualitas buruk?

· 

· 

Harga?

· 

· 

Sales?

· 

· 

Follow-up?

· 

· 

Product?

· 

· 

Trust?

· 

· 

Kompetitor?

· 

· 

Payment?

· 

· 

Customer qualification?

· 


WATCH

Gross margin 15%.

INVESTIGATION

Mengapa gross margin hanya 15%?

Kita gali:

· 

HPP?

· 

· 

Waste?

· 

· 

Harga jual?

· 

· 

Discount?

· 

· 

Product mix?

· 

· 

Supplier?

· 

· 

Productivity?

· 


WATCH

Owner menangani 70% sales.

INVESTIGATION

Mengapa sales sangat bergantung kepada owner?

Kita gali:

· 

Salesperson tidak mampu closing?

· 

· 

Tidak ada script?

· 

· 

Tidak ada training?

· 

· 

Customer hanya percaya owner?

· 

· 

CRM tidak berjalan?

· 

· 

SOP tidak ada?

· 


6. SCORECARD

Agar lebih mudah dibaca, saya menyarankan setiap area diberi skor:

Area

Score

Wujud

8/10

Income

6/10

Biaya

7/10

Indikator

4/10

Sales

5/10

Operasional

8/10

Numbers

4/10

Outlook

6/10

Kemudian kita mendapatkan:

BUSINESS HEALTH SCORE

48 / 80

Tetapi saya tidak ingin score menjadi tujuan.

Score hanya alat visualisasi.

Yang jauh lebih penting adalah:

"Di mana ketidakseimbangan terbesar?"


7. KONSEP PALING PENTING: BUSINESS IMBALANCE

Saya ingin Wibisono Method tidak hanya mencari angka yang buruk.

Kita mencari ketidakseimbangan antarangka.

Misalnya:

Kasus A

Marketing:

9/10

Sales:

9/10

Demand:

9/10

Operational:

3/10

Maka:

Demand > Capacity

Bottleneck kemungkinan di operasional.


Kasus B

Traffic:

9/10

Lead:

8/10

Sales:

3/10

Operational:

8/10

Maka:

Lead > Conversion

Kandidat bottleneck:

Sales.


Kasus C

Sales:

9/10

Revenue:

9/10

Gross Margin:

3/10

Cash:

2/10

Maka:

Revenue > Profit > Cash

Bisnis sibuk tetapi tidak menghasilkan uang yang sehat.


8. DAN INI YANG MENURUT SAYA AKAN MENJADI CIRI KHAS WIBISONO METHOD

Jangan bertanya:

"Apa masalah bisnis Anda?"

Tetapi:

"Di bagian mana mesin bisnis Anda tidak seimbang?"

Karena sebuah bisnis adalah sebuah sistem.

Marketing menghasilkan demand.

↓

Sales mengubah demand menjadi transaksi.

↓

Operational memenuhi transaksi.

↓

Finance mengubah transaksi menjadi profit dan cash.

↓

Customer Experience menghasilkan repeat.

↓

System memungkinkan semuanya berjalan tanpa owner.

↓

Growth memperbesar sistem.

Kalau satu bagian jauh lebih lemah daripada bagian lainnya...

di situlah kandidat bottleneck berada.


Maka 50 pertanyaan ini sebenarnya bukan questionnaire.

Ia adalah:

BUSINESS X-RAY

Bukan untuk menyembuhkan.

Bukan untuk menyimpulkan.

Tetapi untuk memotret kondisi perusahaan sebelum kita melakukan operasi.

Dan kalimat yang menurut saya sangat cocok untuk Wibisono Method adalah:

WATCH: Jangan mencari masalah sebelum melihat keseluruhan bisnis.

Lalu:

INVESTIGATION: Jangan memperbaiki sesuatu sebelum mengetahui penyebabnya.

BOTTLENECK: Jangan memperbaiki 20 masalah. Temukan satu hambatan terbesar.

IMPROVE: Jangan membuat solusi yang rumit. Perbaiki titik yang paling berdampak.

SYSTEMIZE: Jangan biarkan keberhasilan bergantung pada orang. Bangun sistemnya.

OPTIMIZATION: Jangan merasa selesai. Ukur dan perbaiki terus.

NEW GROWTH: Setelah mesin sehat, baru scale.

ONE PAGE SUMMARY: Jadikan seluruh bisnis terlihat dalam satu halaman.

Ini mulai terasa seperti metodologi konsultasi yang benar-benar bisa dipakai lintas industri, bukan sekadar akronim.

Langkah berikutnya yang paling penting adalah membuat "Wibisono Diagnostic Scoring System": dari 50 jawaban tersebut kita tentukan indikator mana yang otomatis menjadi Green / Yellow / Red, bagaimana menghitung Business Health Score, dan bagaimana algoritma sederhana menentukan Top 3 Candidate Bottleneck. Itu yang akan membuat Wibisono Method bisa dipakai secara konsisten oleh konsultan lain, bukan hanya mengandalkan intuisi Yohan.

 

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar