I | IMPROVE | Solution Design Framework

IMPROVE

Solution Design Framework

Kalau WATCH bertanya - Apa yang terjadi?

INVESTIGATE bertanya - Mengapa terjadi?

BOTTLENECK memutuskan - Mana yang paling penting?

Maka IMPROVE bertanya

Perubahan apa yang paling efektif menghilangkan bottleneck tersebut?

Perhatikan.

Bukan: Apa solusinya?

Tetapi: Perubahan apa yang menghilangkan constraint?

Itu berbeda sekali.


STEP 1

Define Success

Pertanyaan pertama bukan solusi.

Tetapi...

Kalau bottleneck ini hilang...

Apa yang berubah?

Misalnya bottleneck:

Production Planning.

Saya bertanya.

Setelah berhasil nanti...

Apa indikator suksesnya?

Misalnya.

  • Lead Time turun dari 45 hari menjadi 28 hari
  • On Time Delivery menjadi 95%
  • Perubahan jadwal produksi turun 80%
  • Downtime turun 30%
  • Cash Conversion Cycle turun 20% 

Artinya...

Sebelum membuat solusi. Kita tahu dulu targetnya.


STEP 2

Challenge Existing Process

Sering muncul pertanyaan saat wawancara:

  • Mengapa proses ini dibuat seperti sekarang?
  • Mengapa approval harus 5 orang?
  • Mengapa QC dilakukan di akhir?
  • Mengapa Purchasing menunggu email?
  • Mengapa laporan dibuat manual?
  • Mengapa meeting 3 jam?
  • Mengapa owner harus tanda tangan semuanya?

Sering kali...

Jawabannya hanya: "Karena dari dulu begitu."

Nah...

Kalau jawabannya itu... Biasanya peluang improvement sangat besar.


STEP 3

Generate Improvement Options

Di sini saya tidak langsung memberi solusi.

Saya membuat alternatif.

Misalnya bottleneck: 

Approval Formula.

Alternatif A

Tambah staf R&D.

Alternatif B

Kurangi level approval.

Alternatif C

Digital approval.

Alternatif D

Template formula.

Alternatif E

Approval meeting harian.

Jangan memilih dulu.


STEP 4

Nilai Setiap Alternatif

Nah ini yang menurut saya akan menjadi ciri khas WIBISONO METHOD.

Setiap solusi diberi skor.

Misalnya.

Alternatif

Impact

Biaya

Waktu

Risiko

Mudah Dijalankan

Total

Tambah staf

4

2

3

4

4

17

Digital Approval

5

4

4

4

5

22

Kurangi Approval

5

5

5

3

5

23

Jadi...

Tidak memilih berdasarkan feeling.


STEP 5

Prioritas

Saya suka menggunakan matriks.

Quick Win

Impact tinggi

Mudah

↓

Kerjakan dulu.

Big Project

Impact tinggi

Sulit

↓

Rencanakan.

Low Impact

↓

Lupakan.


STEP 6

Root Solution Check

Nah ini menurut saya pertanyaan terpenting.

Saya selalu bertanya.

Apakah solusi ini menghilangkan penyebab?

atau

Hanya mengurangi gejalanya?

Contoh.

Order terlambat.

Solusi.

Tambah lembur.

Apakah penyebab hilang?

Tidak.

Gejala hilang.

Penyebab tetap.


STEP 7

Side Effect

Ini jarang dibahas konsultan.

Padahal penting.

Misalnya.

Kalau kita menambah sales.

Apa dampaknya?

Produksi siap?

Gudang siap?

Finance siap?

HR siap?

Kalau tidak.

Muncul bottleneck baru.


STEP 8

Pilot Project

Saya hampir tidak pernah langsung implementasi besar.

Selalu uji dulu.

Misalnya.

Satu line produksi.

Satu cabang.

Satu sales.

Satu hotel.

Satu proyek.

Kalau berhasil.

Baru diperbesar.


Menurut saya ada yang lebih menarik lagi.

Saya membayangkan setiap bottleneck memiliki Library of Improvement.

Misalnya.


Bottleneck = Lead Kurang

Pilihan Improvement.

  • Referral Program
  • Partnership
  • Event
  • SEO
  • Ads
  • Canvassing
  • Komunitas
  • Content Marketing
  • Public Relation


Bottleneck = Closing Rendah

Pilihan.

  • Sales Script
  • Training
  • CRM
  • Proposal
  • Follow Up Automation
  • Testimoni
  • Demo
  • Value Selling


Bottleneck = Produksi Lambat

Pilihan.

  • Line Balancing
  • Layout
  • SOP
  • Production Planning
  • Kanban
  • SMED
  • TPM
  • OEE


Bottleneck = Cash Flow

Pilihan.

  • Progress Billing
  • Deposit
  • Penagihan
  • Persediaan
  • Vendor Payment
  • Piutang
  • Forecast Cash Flow



Bottleneck = Owner Overload

Pilihan.

  • Delegasi
  • Dashboard
  • KPI
  • SOP
  • Weekly Meeting
  • Decision Matrix
  • Leadership Development


Menurut saya inilah yang bisa menjadi kekuatan besar WIBISONO METHOD.

Bukan membuat 100 daftar solusi, tetapi membuat Business Improvement Library yang dipetakan berdasarkan jenis bottleneck.

Bayangkan nanti Anda memiliki sekitar 30 kategori bottleneck (lead, closing, produksi, kualitas, SDM, cash flow, inventory, purchasing, customer experience, leadership, dll.). Untuk setiap kategori tersedia 20–50 opsi improvement yang sudah dikelompokkan berdasarkan biaya, waktu implementasi, tingkat kesulitan, dan dampaknya.

Seorang konsultan tidak perlu mengingat semuanya. Ia cukup:

  • Menemukan bottleneck.
  • Membuka Improvement Library untuk kategori tersebut.
  • Menyeleksi opsi menggunakan matriks dampak–biaya–waktu–risiko.
  • Menyusun roadmap implementasi.

Menurut saya, itu akan membuat WIBISONO METHOD terasa seperti sistem operasi bisnis: diagnosisnya terstruktur, pemilihan solusi juga terstruktur, dan setiap rekomendasi dapat dijelaskan alasannya, bukan sekadar berdasarkan pengalaman atau intuisi.

 

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar