IMPROVE 2
Karena kesalahan konsultan biasanya:
menemukan
masalah → langsung memberikan 20 solusi.
Padahal
belum tentu solusi tersebut menyelesaikan bottleneck.
IMPROVE = SOLVE.
I
— IMPROVE
Framework:
S.O.L.V.E
S
— Specify
O — Options
L — Leverage
V — Validate
E — Execute
Ini
menurut saya sangat mudah dihafal dan cocok lintas industri.
S
— SPECIFY
Tentukan
dengan tepat apa yang harus diperbaiki
Jangan:
"Kita
harus meningkatkan sales."
Terlalu
luas.
Ubah
menjadi:
"Menaikkan
conversion rate qualified lead dari 5% menjadi 10% dalam 90 hari."
Pertanyaan:
- Apa tepatnya yang ingin
diperbaiki?
- Angka berapa yang
sekarang?
- Angka berapa yang
ditargetkan?
- Kapan target harus
tercapai?
- Apa batasan yang harus
diperhatikan?
Formula:
Current
→ Target → Deadline
Contoh:
5%
→ 10% → 90 hari
O
— OPTIONS
Jangan
langsung memilih solusi pertama
Buat
beberapa alternatif.
Misalnya
bottleneck:
Sales
conversion rendah.
Options:
A. Training sales
B. Script sales
C. Qualification system
D. Follow-up automation
E. Perubahan offer
F. Perbaikan trust element
Minimal
buat 3–5 alternatif solusi.
Kemudian
tanyakan:
"Apa
saja cara berbeda untuk menghilangkan bottleneck ini?"
Ini
mencegah kita terjebak pada solusi yang sudah biasa dilakukan.
L
— LEVERAGE
Pilih
solusi dengan dampak terbesar
Sekarang
kita ranking.
Gunakan
5 kriteria:
|
Kriteria |
Pertanyaan |
|
Impact |
Seberapa
besar hasilnya? |
|
Cost |
Berapa
biaya? |
|
Speed |
Seberapa
cepat hasilnya? |
|
Difficulty |
Seberapa
sulit? |
|
Scalability |
Bisa
diperbesar? |
Kemudian
pilih solusi dengan:
Impact
tinggi + Cost rendah + Speed cepat + Difficulty rendah + Scalability tinggi
Ini
menghasilkan:
QUICK
WIN
Tetapi
jangan selalu mengejar quick win.
Karena
ada:
Quick
Win
Hasil
cepat.
Strategic
Improvement
Dampak
besar jangka panjang.
Idealnya:
Quick
Win + Strategic Improvement
V
— VALIDATE
Uji
sebelum diterapkan besar-besaran
Ini
bagian yang sering dilewatkan.
Jangan
langsung:
"Kita
ubah semuanya."
Uji
dulu.
Contoh:
10
salesperson.
Jangan
langsung mengubah sistem seluruh sales.
Test:
5
sales → script baru
5
sales → script lama
Bandingkan:
Conversion
Revenue
Follow-up
Closing time
Kalau
hasilnya lebih baik:
Scale.
Bentuk
VALIDATE bisa berupa:
A/B
Test
A vs
B.
Pilot
Uji
pada satu cabang.
Experiment
Uji
satu perubahan.
Prototype
Buat
versi sederhana.
Before–After
Bandingkan
sebelum dan sesudah.
Prinsipnya:
Don't
scale an unproven solution.
E
— EXECUTE
Jalankan
solusi yang sudah dipilih dan divalidasi
Sekarang
buat:
Who
Siapa
yang mengerjakan?
What
Apa
yang dikerjakan?
When
Kapan?
How
Bagaimana?
KPI
Bagaimana
kita tahu berhasil?
Deadline
Kapan
harus selesai?
Contoh
lengkap
Bottleneck:
Conversion
sales hanya 5%.
S
— Specify
Target:
5% →
10% dalam 90 hari.
O
— Options
- Training sales
- Script baru
- Qualification
- Follow-up automation
- Offer baru
L
— Leverage
Setelah
dihitung:
|
Solusi |
Impact |
Cost |
Speed |
|
Training |
3 |
3 |
3 |
|
Script |
4 |
1 |
5 |
|
Qualification |
5 |
2 |
4 |
|
Automation |
4 |
3 |
3 |
|
Offer |
5 |
4 |
2 |
Maka
kandidat terbaik:
Qualification
+ Script
V
— Validate
Test
selama 2 minggu.
50%
leads:
Sistem
lama.
50%
leads:
Qualification
+ script baru.
Hasil:
Sistem
lama:
5.2%
Sistem
baru:
9.8%
Berarti:
Solution
validated.
E
— Execute
Implementasi
ke seluruh sales.
Target:
Conversion
≥10%.
Owner:
Sales
Manager.
Deadline:
30
hari.
KPI:
Conversion
rate.
Tetapi
saya ingin menambahkan satu konsep penting.
Improve
jangan hanya bertanya:
"Apa
solusi yang kita buat?"
Tetapi:
"Mengapa
solusi ini bisa menghilangkan bottleneck?"
Karena
kita ingin menjaga hubungan:
Bottleneck
↓
Root
Cause
↓
Solution
↓
Expected
Impact
↓
KPI
Kalau
rantainya tidak nyambung, solusi jangan dijalankan.
Saya
bahkan akan membuat "Improve Canvas"
Setelah
konsultasi, konsultan mengisi:
BOTTLENECK
ROOT
CAUSE
CURRENT
TARGET
OPTIONS
SELECTED
SOLUTION
WHY
TEST
KPI
OWNER
DEADLINE
Dan
ada satu filter terakhir:
STOP
— START — CONTINUE
Setiap
improvement tanyakan:
STOP
Apa
yang harus dihentikan?
START
Apa
yang harus mulai dilakukan?
CONTINUE
Apa
yang sudah benar dan harus dipertahankan?
Ini
sangat powerful karena improvement bukan hanya menambah pekerjaan.
Kadang
improvement terbaik justru:
STOP
sesuatu.
Contoh:
Marketing
menghabiskan Rp50 juta/bulan pada channel dengan CAC tinggi.
Improve
tidak selalu:
"Tambahkan
marketing."
Bisa:
STOP
channel tersebut.
Lalu
alihkan budget ke channel dengan CAC lebih rendah.
Jadi
struktur IMPROVE versi Wibisono Method:
S.O.L.V.E
S
— Specify
Apa tepatnya yang diperbaiki?
↓
O
— Options
Apa saja alternatif solusinya?
↓
L
— Leverage
Mana yang dampaknya paling besar?
↓
V
— Validate
Buktikan dengan eksperimen kecil.
↓
E
— Execute
Implementasikan dengan owner, KPI, dan deadline.
Kemudian
gunakan:
STOP
→ START → CONTINUE
sebagai
filter implementasi.
Dan
sekarang mulai terlihat cantik sekali:
WATCH
Apa
yang terjadi?
INVESTIGATION
— TRACE
Mengapa
terjadi?
BOTTLENECK
— FOCUS
Mana
hambatan terbesar?
IMPROVE
— SOLVE
Apa
solusi terbaik?
Sehingga
alurnya menjadi:
WATCH
→ TRACE → FOCUS → SOLVE
Lihat
→ Telusuri → Fokus → Selesaikan.
Menurut
saya ini sudah mulai punya bahasa metodologi yang khas, mudah diajarkan
ke konsultan lain, dan tidak tergantung industri tertentu.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar