NEXT GROWTH 2 → G.R.O.W
Nah, New Growth / Next Growth menurut saya harus menjadi tahap yang paling hati-hati.
Karena
banyak konsultan melakukan kesalahan:
bisnis
belum sehat → langsung disuruh ekspansi.
Padahal
filosofi Wibisono Method seharusnya:
Perbaiki
mesin → stabilkan → optimalkan → baru diperbesar.
Untuk
NEXT GROWTH, saya mengusulkan framework:
NEXT
GROWTH → G.R.O.W
G
— Ground
R — Replicate
O — Open
W — Widen
Ini
sederhana, mudah dihafal, dan cukup universal untuk hampir semua industri.
G
— GROUND
Pastikan
fondasi siap tumbuh
Sebelum
ekspansi, cek:
- Apakah bisnis sudah
profitable?
- Apakah cash flow sehat?
- Apakah bottleneck utama
sudah teratasi?
- Apakah SOP berjalan?
- Apakah kualitas
produk/jasa konsisten?
- Apakah customer
satisfaction cukup baik?
- Apakah bisnis masih
terlalu bergantung pada owner?
- Apakah kapasitas
finansial cukup untuk growth?
Pertanyaan
kunci:
"Kalau
penjualan naik 2× besok, apakah perusahaan mampu melayaninya?"
Kalau
jawabannya:
Tidak.
Maka
jangan growth dulu.
Kembali
ke:
Improve
→ Systemize → Optimize.
R
— REPLICATE
Gandakan
apa yang sudah terbukti berhasil
Ini
menurut saya salah satu prinsip terpenting.
Jangan
mencari model bisnis baru sebelum model yang sekarang berhasil.
Kalau:
Cabang
A profitable.
Jangan
langsung membuat:
bisnis
B, C, D.
Tanyakan:
"Bisakah
keberhasilan cabang A direplikasi?"
Contoh:
Restoran:
Outlet
A:
Omzet
Rp1 M
Net profit Rp150 juta.
Maka:
Replicate
→ Outlet B.
Travel
Umroh:
Program
A:
100
jamaah.
Maka:
Replicate
→ program berikutnya.
Kontraktor:
Sistem
mendapatkan 10 proyek/bulan.
Maka:
Replicate
→ wilayah baru.
O
— OPEN
Buka
sumber pertumbuhan baru
Setelah
mesin lama terbukti, cari growth engine kedua.
Bisa
melalui:
Produk
baru
Produk
tambahan untuk customer yang sama.
Market
baru
Produk
yang sama untuk customer baru.
Channel
baru
Produk
sama + customer sama + channel baru.
Geography
Masuk
wilayah baru.
Partnership
Aliansi
dengan bisnis lain.
Digital
Marketplace,
SEO, TikTok, Meta, AI, automation.
W
— WIDEN
Perbesar
yang sudah terbukti berhasil
Sekarang
scale.
Bisa
melalui:
- Tambah budget
- Tambah sales
- Tambah kapasitas
- Tambah cabang
- Tambah distributor
- Tambah partner
- Tambah wilayah
- Tambah produk
- Franchise
- Licensing
- Automation
- AI
Tetapi
prinsipnya:
Scale
what works.
Bukan:
Scale
what we hope will work.
Contoh
Travel Umroh
Misalnya
perusahaan sudah punya:
100
jamaah/bulan.
Profit:
Rp300
juta.
Conversion:
10%.
Repeat/referral:
25%.
SOP:
Berjalan.
Owner
dependency:
20%.
G
— GROUND
Pastikan:
Sistem
mampu menangani 200 jamaah.
R
— REPLICATE
Jangan
langsung buka 10 produk baru.
Replikasi:
Paket
yang sudah paling laku.
Misalnya:
Umroh
keluarga.
O
— OPEN
Kemudian
buka growth engine baru:
Market:
Anak
yang ingin memberangkatkan orang tua.
Channel:
TikTok.
Partnership:
Komunitas
Muslim.
W
— WIDEN
Setelah
terbukti:
Tambah
budget TikTok.
Tambah
CS.
Tambah
kapasitas keberangkatan.
Tambah
partnership.
Tambah
kota pemasaran.
Tetapi
saya ingin Next Growth punya satu filter tambahan.
GROWTH
MATRIX
Setiap
ide growth dimasukkan ke empat kategori:
|
Existing
Market |
New
Market |
|
|
Existing
Product |
Market
Penetration |
Market
Development |
|
New
Product |
Product
Development |
Diversification |
Ini
membantu owner tidak asal ekspansi.
Contoh
Travel
Umroh:
Existing
Product + Existing Market
Jual
paket umroh yang sama kepada lebih banyak orang.
Penetration
Existing
Product + New Market
Paket
umroh untuk pasar Malaysia.
Market
Development
New
Product + Existing Market
Tambahkan
layanan persiapan manasik premium.
Product
Development
New
Product + New Market
Membuka
bisnis travel wisata halal.
Diversification
Ini
yang paling berisiko.
Jadi
saya akan membuat aturan:
Growth
Risk Ladder
Dari
risiko rendah → tinggi:
1.
PENETRATION
Jual
lebih banyak ke market yang sama.
↓
2.
REPLICATION
Gandakan
model yang sudah terbukti.
↓
3.
MARKET DEVELOPMENT
Masuk
market baru.
↓
4.
PRODUCT DEVELOPMENT
Buat
produk baru.
↓
5.
DIVERSIFICATION
Produk
baru + market baru.
Semakin
ke bawah:
semakin
tinggi risiko.
Dan
ada satu pertanyaan yang sangat saya suka untuk Next Growth:
"Apa
yang sudah terbukti berhasil tetapi belum kita gandakan?"
Ini
sering lebih powerful daripada:
"Bisnis
baru apa yang harus kita buat?"
Karena
banyak perusahaan sebenarnya tidak kekurangan peluang.
Mereka
hanya:
belum
memaksimalkan sesuatu yang sudah berhasil.
Maka
NEXT GROWTH versi Wibisono Method:
G.R.O.W
G
— Ground
Pastikan
fondasi siap.
R
— Replicate
Gandakan
yang terbukti.
O
— Open
Buka
sumber pertumbuhan baru.
W
— Widen
Perbesar
yang berhasil.
Dan
kalau seluruh metode kita susun sekarang:
WIBISONO
METHOD
WATCH
→ WIBISONO BUSINESS DIAGNOSTIC
INVESTIGATION
→ TRACE
BOTTLENECK
→ FOCUS
IMPROVE
→ SOLVE
SYSTEMIZE
→ SCALE
OPTIMIZE
→ TUNE
NEXT
GROWTH
→ GROW
Maka
alurnya menjadi sangat mudah diingat:
DIAGNOSE
→ TRACE → FOCUS → SOLVE → SCALE → TUNE → GROW
Atau
dalam bahasa yang lebih "manusia":
Lihat
→ Telusuri → Fokus → Selesaikan → Sistemkan → Optimalkan → Tumbuhkan.
Dan
yang paling penting:
Jangan
GROW sebelum SCALE.
Jangan SCALE sebelum TUNE.
Jangan TUNE sebelum SYSTEMIZE.
Jangan SYSTEMIZE sebelum IMPROVE.
Jangan IMPROVE sebelum menemukan BOTTLENECK.
Jangan menentukan BOTTLENECK sebelum INVESTIGATION.
Jangan INVESTIGATION sebelum WATCH.
Itu
yang membuat Wibisono Method menjadi sebuah alur diagnosis → perbaikan →
pertumbuhan, bukan sekadar 8 bab yang berdiri sendiri.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar