OPTIMIZE 2 → T.U.N.E

Nah, Optimize harus dibedakan jelas dari Improve.

Improve = membuat sesuatu yang bermasalah menjadi lebih baik.
Optimize = membuat sistem yang sudah berjalan menjadi semakin efektif, efisien, dan profitable.

Jadi setelah:

WATCH → TRACE → FOCUS → SOLVE → SCALE

kita masuk ke:

OPTIMIZE → T.U.N.E

Saya memilih TUNE karena maknanya tepat: mesin sudah berjalan, sekarang kita tune agar performanya semakin optimal.

T — Track
U — Understand
N — Narrow
E — Experiment


T — TRACK

Ukur apa yang sedang terjadi

Optimize tidak boleh berdasarkan perasaan.

Pertanyaan:

  • KPI apa yang harus dipantau?
  • Berapa baseline sekarang?
  • Apakah performa naik atau turun?
  • Bagian mana yang paling tidak efisien?
  • Berapa biaya untuk menghasilkan satu unit hasil?
  • Berapa profit yang dihasilkan?

Contoh:

Conversion:

8%

CAC:

Rp150.000

Gross Margin:

28%

Itulah baseline.


U — UNDERSTAND

Cari tahu apa yang membuat angka berubah

Sekarang jangan hanya melihat angka.

Cari pola.

Misalnya:

Conversion:

Senin → 5%
Selasa → 6%
Rabu → 12%
Kamis → 5%

Pertanyaan:

"Apa yang berbeda pada hari Rabu?"

Ternyata salesperson terbaik masuk.

Atau:

CAC:

Facebook → Rp50.000
Google → Rp150.000
TikTok → Rp70.000

Kita mulai memahami:

Channel mana yang lebih efisien.


N — NARROW

Fokuskan sumber daya ke yang terbaik

Ini bagian yang sangat penting.

Optimization bukan:

menambah semuanya.

Tetapi:

mengurangi yang tidak efektif dan memperbesar yang efektif.

Contoh:

Channel

CAC

Facebook

Rp50K

TikTok

Rp70K

Google

Rp150K

Event

Rp250K

Jangan otomatis:

Tambah budget semuanya.

Kita bisa:

Reduce Google

Reduce Event

Increase Facebook

Test TikTok

Ini disebut:

Resource Allocation.


E — EXPERIMENT

Terus melakukan percobaan kecil

Setelah menemukan sesuatu yang lebih baik, jangan langsung menganggap itu final.

Test:

  • Headline A vs B
  • Harga A vs B
  • Script A vs B
  • Landing page A vs B
  • Offer A vs B
  • Sales script A vs B
  • Packaging A vs B

Tujuannya:

Find the better version.


Tapi saya merasa TUNE masih kurang satu hal.

Karena Optimize harus menghasilkan efisiensi.

Maka kita harus selalu melihat:

4 DIMENSI OPTIMIZATION

1. EFFECTIVENESS

Apakah menghasilkan hasil?

2. EFFICIENCY

Apakah menghasilkan dengan sumber daya lebih sedikit?

3. PROFITABILITY

Apakah menghasilkan profit lebih besar?

4. SCALABILITY

Apakah bisa diperbesar tanpa biaya meningkat secara tidak sehat?


Contoh

Marketing A:

Rp10 juta budget

Revenue:

Rp50 juta

Marketing B:

Rp10 juta budget

Revenue:

Rp70 juta

B lebih efektif.

Tapi belum tentu lebih profitable.

Misalnya:

A → margin 40%

B → margin 15%

Maka:

A:

Rp50 juta × 40% = Rp20 juta gross profit

B:

Rp70 juta × 15% = Rp10,5 juta gross profit

Revenue B lebih besar.

Tetapi profit A lebih besar.

Maka Optimize harus melihat:

Revenue ≠ Profit.


Saya ingin menambahkan "4E Test"

Setiap optimasi diuji dengan:

E1 — Effectiveness

Apakah hasil meningkat?

E2 — Efficiency

Apakah resources yang digunakan lebih sedikit?

E3 — Economics

Apakah profit meningkat?

E4 — Expansion

Apakah bisa diperbesar?

Ini menjadi filter sebelum sebuah improvement dianggap berhasil.


Contoh Optimize untuk Travel Umroh

Misalnya sistem sudah berjalan.

Data:

Channel

Lead

Closing

CAC

TikTok

1.000

20

Rp100K

Meta

800

40

Rp80K

Referral

100

20

Rp40K

TRACK

Kita ukur semua.

UNDERSTAND

Referral menghasilkan closing rate paling tinggi.

NARROW

Kurangi budget channel dengan performa rendah.

EXPERIMENT

Test:

Program referral jamaah.

Misalnya:

Referral A:

Bonus merchandise.

Referral B:

Benefit layanan.

Referral C:

Program keluarga.

Kemudian lihat:

Mana yang menghasilkan CAC terendah dan profit terbaik.


Tetapi ada satu konsep yang sangat penting:

Optimize bukan "selalu menambah."

Optimize bisa berarti:

STOP

Menghentikan sesuatu yang tidak efektif.

REDUCE

Mengurangi sesuatu yang kurang efektif.

IMPROVE

Memperbaiki sesuatu yang potensial.

INCREASE

Memperbesar sesuatu yang efektif.

ELIMINATE

Menghilangkan pemborosan.

Ini bisa menjadi decision rule sederhana.


Maka saya membayangkan Optimize Wibisono Method seperti ini:

T.U.N.E

T — TRACK

Ukur.

U — UNDERSTAND

Pahami.

N — NARROW

Fokuskan.

E — EXPERIMENT

Uji.

Measure → Learn → Focus → Test → Repeat


Dan sekarang framework Wibisono mulai sangat solid:

Tahap

Framework

Pertanyaan

WATCH

WIBISONO

Apa yang terjadi?

INVESTIGATION

TRACE

Mengapa terjadi?

BOTTLENECK

FOCUS

Mana hambatan terbesar?

IMPROVE

SOLVE

Apa solusi terbaik?

SYSTEMIZE

SCALE

Bagaimana membuatnya berulang?

OPTIMIZE

TUNE

Bagaimana membuatnya semakin baik?

Sehingga ada satu loop:

WATCH → TRACE → FOCUS → SOLVE → SCALE → TUNE → WATCH

Ini penting.

Karena Optimize tidak pernah benar-benar selesai.

Setelah kita TUNE, kita kembali ke WATCH dan melihat:

"Apa yang terjadi sekarang?"

Dan dari sinilah Wibisono Method berubah dari sekadar metode konsultasi menjadi business improvement operating system.

  

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *