SYSTEMIZE 2 = SCALE.
Nah, ini bagian yang menurut saya sangat penting dalam Wibisono Method.
Karena
setelah Improve berhasil, jangan sampai hasilnya hanya bergantung pada
orang yang menemukan solusi.
Improve
membuat bisnis lebih baik.
Systemize membuat bisnis mampu mengulang kebaikan tersebut.
Saya
menyarankan SYSTEMIZE = SCALE.
SYSTEMIZE
→ S.C.A.L.E
S
— Standardize
C — Capture
A — Assign
L — Launch
E — Evaluate
Ini
mudah diingat dan sangat operasional.
S
— STANDARDIZE
"Bagaimana
cara terbaiknya dijadikan standar?"
Setelah
menemukan cara yang terbukti berhasil, kita ubah menjadi standar.
Pertanyaan:
- Apa proses yang berhasil?
- Bagaimana urutan
prosesnya?
- Apa standar hasilnya?
- Apa yang boleh dan tidak
boleh dilakukan?
- Berapa lama proses
idealnya?
- Apa KPI proses tersebut?
Contoh:
Improve
menemukan:
Follow-up
dalam 5 menit meningkatkan conversion.
Maka
standard:
Semua
lead wajib mendapat respons maksimal 5 menit.
C
— CAPTURE
"Bagaimana
pengetahuan tersebut tidak hilang?"
Kesalahan
perusahaan:
Orang
tahu caranya, tetapi perusahaan tidak punya dokumentasinya.
Capture
berarti mengabadikan knowledge.
Bentuknya
bisa:
- SOP
- Checklist
- Script
- Template
- Video tutorial
- Flowchart
- Form
- Knowledge base
- Prompt AI
Contoh:
Sales
berhasil dengan script tertentu.
Jangan
hanya bilang:
"Gunakan
script seperti Andi."
Capture:
Sales
Script v1.0
A
— ASSIGN
"Siapa
yang bertanggung jawab?"
SOP
tanpa owner biasanya mati.
Tentukan:
Who
Siapa
pelaksananya?
Owner
Siapa
penanggung jawab?
Reviewer
Siapa
yang memeriksa?
Escalation
Kalau
terjadi masalah, siapa yang menerima eskalasi?
Contoh:
CS →
menjalankan SOP
Sales Manager → mengawasi
Owner → menerima laporan mingguan
L
— LAUNCH
"Bagaimana
sistem benar-benar diterapkan?"
Dokumen
bukan sistem.
SOP
yang tidak digunakan hanyalah file PDF.
Launch
berarti:
- Training
- Simulasi
- Implementasi
- Pendampingan
- Penggunaan tools
- Monitoring awal
Contoh:
SOP
follow-up sudah dibuat.
Tetapi
jangan berhenti di:
"Sudah
saya kirim SOP-nya."
Harus:
Training
→ Role Play → Implementasi → Monitoring.
E
— EVALUATE
"Apakah
sistem benar-benar bekerja?"
Ukur.
Pertanyaan:
- Apakah SOP dijalankan?
- Apakah hasilnya sesuai
target?
- Di mana SOP sering
dilanggar?
- Apakah ada langkah yang
terlalu rumit?
- Apakah sistem
menghasilkan KPI yang diharapkan?
- Apa yang perlu
diperbaiki?
Kemudian:
System
→ Measure → Improve → Update
Jadi
system bukan sesuatu yang dibuat sekali lalu ditinggalkan.
Contoh:
Restoran
Bottleneck:
Waktu
pelayanan terlalu lama.
Improve:
Mengubah
alur kitchen.
Hasil:
Waktu
pelayanan turun dari 25 menit → 15 menit.
Sekarang
Systemize.
S
— Standardize
Tetapkan:
Target
maksimal 15 menit.
C
— Capture
Buat:
SOP
order → kitchen → plating → serving.
A
— Assign
Waiter:
input
order.
Kitchen:
produksi.
Kitchen
leader:
QC.
L
— Launch
Training
semua staff.
Simulasi
20 order.
Implementasi.
E
— Evaluate
Pantau:
Average
serving time.
Kalau
kembali menjadi 22 menit:
Investigate
lagi.
Tetapi
saya ingin menambahkan satu layer penting:
SYSTEMIZE
bukan hanya SOP.
Ada 5
benda yang harus disistemkan:
1.
PEOPLE
Siapa
melakukan apa?
2.
PROCESS
Urutannya
bagaimana?
3.
TOOLS
Menggunakan
alat apa?
4.
DATA
Apa
yang dicatat?
5.
CONTROL
Siapa
yang memonitor?
Jadi
sebuah sistem idealnya:
People
+ Process + Tools + Data + Control
Saya
juga ingin membuat "Systemize Test"
Setelah
sistem dibuat, tanyakan:
TEST
1
Kalau
orang terbaik kita berhenti besok, apakah proses tetap berjalan?
Kalau
tidak:
Belum
systemized.
TEST
2
Apakah
orang baru bisa mempelajari proses ini tanpa selalu bertanya kepada owner?
Kalau
tidak:
Belum
systemized.
TEST
3
Apakah
kita bisa mengukur apakah SOP dijalankan?
Kalau
tidak:
Belum
systemized.
TEST
4
Apakah
sistem bisa dijalankan berulang kali dengan hasil relatif konsisten?
Kalau
tidak:
Belum
systemized.
Dan
akhirnya saya suka sekali kalau Systemize Wibisono Method diringkas menjadi:
S.C.A.L.E
S
— Standardize
Tetapkan
cara terbaik.
C
— Capture
Dokumentasikan
pengetahuan.
A
— Assign
Tetapkan
orang yang bertanggung jawab.
L
— Launch
Terapkan
ke lapangan.
E
— Evaluate
Ukur
dan perbaiki.
Lalu
kita punya alur:
WATCH
→ TRACE → FOCUS → SOLVE → SCALE
atau
dalam bahasa Indonesia:
LIHAT
→ TELUSURI → FOKUS → SELESAIKAN → SISTEMKAN
Dan
ada filosofi yang sangat kuat di baliknya:
Kalau
sebuah solusi hanya bisa dilakukan oleh orang tertentu, itu belum menjadi
sistem.
Kalau
sebuah sistem tidak bisa diukur, itu belum menjadi manajemen.
Kalau
sebuah sistem bisa diulang, diukur, dan diperbaiki, barulah bisnis siap
di-scale.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar