TRACE Compare Validation - Investigation 2
Bisa. Bahkan menurut saya Investigation harus punya "bahasa" sendiri, supaya Wibisono Method tidak terasa seperti kumpulan pertanyaan konsultasi biasa.
Kalau WATCH = melihat apa yang terjadi, maka:
INVESTIGATION = mencari mengapa itu terjadi.
Dan saya menyarankan kita tidak memaksakan huruf I-N-V-E-S-T-I-G-A-T-I-O-N kalau akhirnya pertanyaannya jadi terlalu banyak. Lebih baik membuat 7–8 kata kunci yang mudah dihafal dan secara logis menggambarkan proses investigasi.
Saya paling suka struktur ini:
INVESTIGATION
TRACE
T — Trigger
R — Result
A — Actors
C — Cause
E — Evidence
Ini sangat mudah diingat dan sebenarnya cocok sekali dengan filosofi Wibisono Method.
1. T — TRIGGER
"Kapan dan bagaimana masalah mulai muncul?"
Tujuannya mencari awal perubahan.
Pertanyaan:
1. Kapan kondisi ini mulai terjadi?
2.
3.
4.
5.
6. Apakah ada perubahan harga?
7.
8. Apakah ada perubahan SDM?
9.
10. Apakah ada perubahan perilaku customer?
11.
WATCH:
Closing turun dari 20% → 8%.
INVESTIGATION:
"Kapan mulai turun?"
Ternyata:
Setelah sales manager baru masuk.
Sekarang kita punya titik investigasi.
2. R — RESULT
"Apa sebenarnya dampak masalahnya?"
Jangan hanya melihat gejala.
Kita ukur dampaknya.
Pertanyaan:
1. Apa yang turun/naik?
2.
3.
4. Berapa customer terdampak?
5.
6. Berapa waktu yang terbuang?
7.
8. Apakah masalah mempengaruhi profit?
9.
10. Apakah masalah mempengaruhi customer?
11. :
Conversion turun 12%.
Bukan hanya:
"Sales turun."
Tetapi:
300 leads × 12% = 36 transaksi hilang.
Sekarang masalah menjadi nilai ekonomi yang konkret.
3. A — ACTORS
"Siapa saja yang terlibat?"
Ini penting karena masalah bisnis hampir selalu melibatkan manusia.
Pertanyaan:
1.
2. Siapa yang bertanggung jawab?
3.
4. Siapa yang menjalankan proses?
5.
6. Apakah ada pihak lain yang mempengaruhi?
7.
8. Apakah orang terbaik mengalami masalah yang sama?
9.
10. Apakah masalah terjadi pada customer tertentu?
11.
Ini membantu kita membedakan:
People Problem vs System Problem.
4. C — CAUSE
"Mengapa ini terjadi?"
Ini inti investigation.
Tapi jangan berhenti pada satu jawaban.
Gunakan:
5 WHY
Contoh:
Masalah: Closing turun.
Kenapa?
→ Sales tidak follow-up.
Kenapa?
→ Banyak lead tidak di-follow-up.
Kenapa?
→ Sales kewalahan.
Kenapa?
→ Lead meningkat 3×.
Kenapa?
→ Marketing meluncurkan campaign baru tanpa penyesuaian kapasitas sales.
Sekarang kita menemukan sesuatu yang berbeda.
Masalah awal:
"Sales malas."
Kemungkinan root cause:
Marketing demand meningkat tanpa capacity planning.
5. E — EVIDENCE
"Apa buktinya?"
Ini menurut saya sangat penting untuk Wibisono Method.
Karena owner sering mengatakan:
"Menurut saya..."
Investigator menjawab:
"Apa datanya?"
Pertanyaan:
1. Apa data yang mendukung?
2.
3.
4. Apakah ada data CRM?
5.
6. Apakah ada data customer?
7.
8. Apakah ada data keuangan?
9.
10. Apakah kita bisa membandingkan sebelum dan sesudah?
11.
Prinsipnya:
Opinion → Hypothesis → Evidence → Finding
Tetapi TRACE masih belum cukup.
Ada satu hal yang sangat penting dalam investigasi:
Membandingkan.
Karena sebuah angka tidak bermakna tanpa pembanding.
Misalnya:
Conversion 5%.
Apakah itu buruk?
Kita tidak tahu.
Tetapi kalau:
2025 → 12%
2026 → 5%
Maka ada perubahan.
Atau:
Cabang A → 12%
Cabang B → 5%
Maka ada perbedaan.
Atau:
Sales A → 15%
Sales B → 3%
Maka ada sesuatu yang perlu dicari.
Jadi saya ingin menambahkan C kedua:
TRACE-C
T — Trigger
Kapan mulai?
R — Result
Apa dampaknya?
A — Actors
Siapa terlibat?
C — Cause
Mengapa terjadi?
E — Evidence
Apa buktinya?
C — Compare
Dibandingkan dengan apa?
Ini menjadi:
TRACEC
Agak aneh untuk dihafal.
Maka saya justru menyarankan TRACE + COMPARE.
INVESTIGATION FRAMEWORK
TRACE
T — Trigger
Kapan masalah mulai?
R — Result
Apa dampaknya?
A — Actors
Siapa yang terlibat?
C — Cause
Mengapa terjadi?
E — Evidence
Apa buktinya?
↓
COMPARE
Bandingkan:
· Before vs After
· Target vs Actual
· Best vs Worst
· Branch vs Branch
· Product vs Product
· Sales vs Sales
· Customer vs Customer
↓
VALIDATE
Apakah dugaan penyebab benar-benar terbukti?
Contoh Kasus Kontraktor
WATCH menemukan:
Omzet turun 30%.
Jangan langsung:
"Marketing bermasalah."
Kita masuk Investigation.
T — Trigger
Kapan mulai turun?
6 bulan lalu.
R — Result
Dampaknya?
Kehilangan ±Rp800 juta omzet.
A — Actors
Siapa terlibat?
Marketing, sales, estimator.
C — Cause
Kenapa?
Lead turun.
Kenapa lead turun?
Traffic website turun.
Kenapa traffic turun?
Ranking keyword utama turun.
Kenapa ranking turun?
Website tidak di-update selama 8 bulan.
E — Evidence
Data Google Search Console menunjukkan:
Click turun 42%.
COMPARE
Sebelum:
10.000 impressions → 800 clicks.
Sekarang:
6.000 impressions → 420 clicks.
VALIDATE
Hipotesis:
Demand generation melalui organic search melemah.
Sekarang kita punya finding, bukan asumsi.
Contoh Kasus Restoran
WATCH:
Omzet stagnan.
Investigation:
Trigger
Omzet mulai stagnan sejak outlet baru buka.
Result
Revenue tidak bertambah meskipun kapasitas bertambah.
Actors
Marketing, outlet manager, kitchen.
Cause
Customer outlet lama berpindah ke outlet baru.
Evidence
Data transaksi menunjukkan:
Outlet lama:
1.000 transaksi → 700
Outlet baru:
0 → 300
Compare
Total:
1.000 → 1.000.
Maka ternyata:
Bukan demand yang stagnan. Ada cannibalization antar-outlet.
Ini contoh kenapa Investigation penting.
Saya juga ingin membuat aturan emas Investigation
WATCH:
"Apa yang terjadi?"
INVESTIGATION:
"Mengapa itu terjadi?"
BOTTLENECK:
"Mana satu hambatan yang paling membatasi pertumbuhan?"
Jadi kita jangan mencampur ketiganya.
Struktur lengkap Wibisono Method mulai terlihat
Tahap | Pertanyaan utama |
WATCH | Apa yang terjadi? |
INVESTIGATION | Mengapa terjadi? |
BOTTLENECK | Apa hambatan terbesar? |
IMPROVE | Apa yang harus diperbaiki? |
SYSTEMIZE | Bagaimana membuatnya konsisten? |
OPTIMIZATION | Bagaimana membuatnya semakin baik? |
NEW GROWTH | Bagaimana memperbesar bisnis? |
ONE PAGE SUMMARY | Bagaimana merangkum semuanya? |
Dan saya suka satu prinsip besar untuk keseluruhan metode:
WATCH menemukan pola.
INVESTIGATION menemukan penyebab.
BOTTLENECK memilih satu titik.
IMPROVE memperbaikinya.
SYSTEMIZE membuatnya berulang.
OPTIMIZATION membuatnya semakin efisien.
NEW GROWTH memperbesar hasilnya.
ONE PAGE SUMMARY membuat semuanya terlihat.
Menurut saya, TRACE + COMPARE + VALIDATE ini layak kita jadikan Investigation Protocol resmi Wibisono Method. Ini membuat konsultan tidak mudah terjebak pada jawaban owner seperti "sales malas", "marketing jelek", "harga kemahalan", "SDM kurang bagus"—semuanya diperlakukan sebagai hipotesis, bukan fakta.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar