Watch (Daftar Tanya untuk Bisa Mengamati Keadaan Perusahaan Sesungguhnya) - 2

Malam ini justru saya rasa kita bisa membuat Wibisono Method jauh lebih tajam.

Saya setuju dengan premis Anda: WATCH jangan sekadar bertanya "omzet berapa?". WATCH harus seperti medical check-up perusahaan. Dari jawaban awal saja, konsultan sudah bisa melihat "foto besar" perusahaan lintas industri—meskipun industrinya berbeda: kontraktor, restoran, hotel, travel umroh, manufaktur, klinik, properti, distributor, jasa, dan sebagainya.

Dan karena tahap berikutnya adalah Investigation, maka WATCH harus faktual, ringkas, terukur, dan tidak terlalu menggali penyebab.


WIBISONO METHOD

W — Watch
I — Investigation
B — Bottleneck
I — Improve
S — Systemize
O — Optimization
N — New Growth
O — One Page Summary

Saya punya ide:

WATCH dibuat menjadi "WIBISONO BUSINESS SNAPSHOT"

Artinya, ketika kita masuk ke sebuah perusahaan, kita memberikan 8 kelompok pertanyaan yang huruf depannya membentuk:

W I B I S O N O

Sehingga mudah diingat oleh konsultan maupun owner.


W — WUJUD BISNIS

"Bisnis ini sebenarnya seperti apa?"

1. Apa produk/jasa utama yang dijual?

2. Siapa pelanggan utama?

3. Dari mana pelanggan biasanya datang?

4. Di wilayah mana bisnis beroperasi?

5. Berapa lama bisnis sudah berjalan?

6. Berapa jumlah produk/jasa yang aktif dijual?

7. Produk/jasa mana yang paling banyak terjual?

8. Produk/jasa mana yang paling menghasilkan profit?

9. Apa sumber pendapatan terbesar perusahaan?

10. Apakah pendapatan bergantung pada satu produk, satu pelanggan, satu channel, atau satu orang?

Yang ingin kita lihat:

Business Model Snapshot

Apa yang dijual → kepada siapa → melalui channel apa → menghasilkan uang dari mana.


I — INCOME

"Berapa uang yang sebenarnya masuk?"

1. Berapa omzet rata-rata per bulan?

2. Berapa omzet bulan terbaik?

3. Berapa omzet bulan terburuk?

4. Bagaimana omzet 12 bulan terakhir?

5. Apakah omzet sedang naik, turun, atau stagnan?

6. Berapa rata-rata nilai transaksi?

7. Berapa jumlah transaksi per bulan?

8. Produk/jasa mana yang memberikan omzet terbesar?

9. Berapa persentase omzet dari pelanggan lama vs pelanggan baru?

10. Apakah ada pendapatan berulang/recurring?

Yang ingin kita lihat:

Revenue Engine

Dari mana uang datang, berapa besar, seberapa stabil, dan seberapa tergantung pada sumber tertentu.


B — BIAYA

"Untuk menghasilkan omzet tersebut, berapa yang harus dikeluarkan?"

1. Berapa HPP/COGS?

2. Berapa gross profit?

3. Berapa gross margin?

4. Berapa biaya operasional per bulan?

5. Berapa biaya marketing?

6. Berapa biaya sales?

7. Berapa biaya SDM?

8. Berapa biaya sewa, utilitas, logistik, dan overhead?

9. Berapa biaya tetap?

10. Berapa biaya variabel?

11. Produk/jasa mana yang paling mahal untuk diproduksi/dikerjakan?

12. Produk/jasa mana yang memiliki margin terbesar?

Yang ingin kita lihat:

Cost Structure

Karena omzet besar belum tentu bisnis sehat.

Omzet → HPP → Gross Profit → Operating Cost → Net Profit.


I — INDIKATOR

Ini menurut saya bagian yang sangat penting.

"Apa angka yang menunjukkan mesin bisnis bekerja?"

1. Berapa jumlah leads per bulan?

2. Berapa jumlah inquiry?

3. Berapa jumlah quotation/proposal?

4. Berapa jumlah transaksi?

5. Berapa conversion rate?

6. Berapa average order value?

7. Berapa CAC?

8. Berapa repeat order rate?

9. Berapa customer lifetime value?

10. Berapa jumlah pelanggan aktif?

11. Berapa pelanggan baru setiap bulan?

12. Berapa pelanggan yang hilang?

13. Berapa refund/cancel/complaint?

14. Berapa lama rata-rata proses dari lead sampai closing?

15. Berapa kapasitas produksi/pelayanan dibanding kapasitas maksimal?

Yang ingin kita lihat:

Business Performance Indicators

Di sinilah kita mulai bisa melihat:

Traffic → Lead → Sales → Revenue → Profit → Repeat.


S — SALES

"Bagaimana perusahaan mendapatkan uang?"

1. Apa sumber lead terbesar?

2. Channel mana yang menghasilkan penjualan terbesar?

3. Channel mana yang menghasilkan profit terbesar?

4. Berapa jumlah salesperson?

5. Berapa target sales?

6. Berapa pencapaian sales?

7. Siapa salesperson terbaik?

8. Berapa conversion rate masing-masing channel/sales?

9. Berapa rata-rata waktu closing?

10. Apa metode penjualan yang digunakan?

11. Apakah penjualan bergantung pada owner?

12. Berapa persen penjualan berasal dari repeat customer?

13. Apakah perusahaan memiliki database pelanggan?

14. Apakah ada follow-up terhadap calon pelanggan yang belum membeli?


Yang ingin kita lihat:

Sales Engine

Karena dua perusahaan dengan omzet sama bisa memiliki mesin sales yang sangat berbeda.


O — OPERASIONAL

"Setelah terjadi penjualan, apakah perusahaan mampu memenuhi janjinya?"

1. Berapa kapasitas produksi/pelayanan?

2. Berapa kapasitas yang sedang digunakan?

3. Berapa lama waktu pengerjaan?

4. Berapa tingkat keterlambatan?

5. Berapa tingkat kesalahan/rework?

6. Berapa jumlah komplain?

7. Berapa tingkat retur/refund?

8. Bagaimana kualitas dikontrol?

9. Apakah ada SOP utama?

10. Apakah pekerjaan bergantung pada orang tertentu?

11. Apa bottleneck operasional yang sudah terlihat?

12. Berapa biaya akibat kesalahan operasional?


Yang ingin kita lihat:

Delivery Engine

Apakah perusahaan mampu menjual lebih banyak tanpa operasionalnya jebol?


N — NUMBERS

Ini berbeda dari Income dan Biaya.

Kalau Income = revenue, maka Numbers = kesehatan keuangan perusahaan secara keseluruhan.

1. Berapa net profit per bulan?

2. Berapa net profit margin?

3. Berapa cash yang tersedia?

4. Berapa piutang?

5. Berapa hutang?

6. Berapa kewajiban bulanan?

7. Berapa cash burn?

8. Berapa break-even point?

9. Berapa modal kerja yang dibutuhkan?

10. Berapa lama cash conversion cycle?

11. Apakah perusahaan pernah mengalami cash flow negatif?

12. Apakah profit perusahaan benar-benar berubah menjadi cash?

Pertanyaan yang sangat penting:

"Kalau perusahaan berhenti mendapatkan penjualan selama 3 bulan, apakah perusahaan masih bisa bertahan?"

Jawaban ini sering membuka kondisi perusahaan yang tidak terlihat dari omzet.


O — OUTLOOK

Saya justru menyarankan O terakhir jangan "Opportunity" dulu.

Kenapa?

Karena WATCH harus melihat fakta saat ini, bukan buru-buru memberikan solusi.

Saya lebih suka:

O = OUTLOOK

Pertanyaannya:

1. Bagaimana pertumbuhan bisnis 12 bulan terakhir?

2. Apakah jumlah pelanggan bertambah atau berkurang?

3. Apakah margin membaik atau memburuk?

4. Apakah biaya meningkat lebih cepat daripada omzet?

5. Apakah kapasitas bisnis masih memiliki ruang pertumbuhan?

6. Apakah bisnis semakin bergantung kepada owner?

7. Apakah ada produk yang mulai menurun?

8. Apakah ada channel yang mulai kehilangan efektivitas?

9. Apakah ada perubahan besar pada perilaku pelanggan?

10. Apa target perusahaan 12 bulan ke depan?


Lalu satu pertanyaan terakhir:

"Jika tidak ada perubahan apa pun dalam bisnis ini selama 12 bulan ke depan, apa yang kemungkinan terjadi?"

Ini sangat powerful.


Maka WATCH kita menjadi:

W — Wujud Bisnis

Apa bisnisnya?

I — Income

Berapa uang yang masuk?

B — Biaya

Berapa uang yang keluar untuk menghasilkan uang?

I — Indikator

Apa angka yang menunjukkan mesin bisnis bekerja?

S — Sales

Bagaimana perusahaan mendapatkan pelanggan dan penjualan?

O — Operasional

Bagaimana perusahaan memenuhi penjualan tersebut?

N — Numbers

Seberapa sehat kondisi keuangannya?

O — Outlook

Ke mana bisnis sedang bergerak?


Tetapi saya ingin membuatnya lebih powerful lagi.

Jangan berhenti pada pertanyaan.

Setiap jawaban harus menghasilkan angka atau fakta.

Misalnya:

Owner:

"Marketing kita sebenarnya bagus."

Kita tidak menerima itu sebagai data.

Kita ubah menjadi:

"Berapa leads per bulan?"

"Berapa CAC?"

"Berapa conversion rate?"

"Berapa omzet dari channel tersebut?"

Begitu juga:

Owner:

"Sales kita kurang agresif."

Jangan langsung percaya.

Tanyakan:

"Target sales berapa?"

"Actual berapa?"

"Jumlah leads yang diterima berapa?"

"Conversion rate berapa?"

"Average order berapa?"

Baru kita punya fakta.


Prinsip WATCH

Saya akan merumuskan prinsipnya seperti ini:

WATCH tidak mencari siapa yang salah. WATCH mencari apa yang sebenarnya terjadi.

Atau lebih tajam:

WATCH = FACT BEFORE OPINION.

Dan:

WATCH bukan mencari masalah. WATCH mencari pola.

Karena Bottleneck belum boleh dicari terlalu cepat.

Kita belum boleh mengatakan:

"Masalah perusahaan ini ada di marketing."

hanya karena omzet turun.

Bisa saja ternyata:

Marketing → bagus
Lead → banyak
Closing → bagus
Omzet → turun

Ternyata:

kapasitas produksi tidak mampu memenuhi permintaan.

Itulah mengapa WATCH harus melihat seluruh mesin bisnis terlebih dahulu.


Saya bahkan akan membuat output WATCH menjadi 1 halaman

Misalnya:

W | Wujud

Produk utama:
Customer utama:
Wilayah:
Business model:

I | Income

Omzet: Rp...
Growth: ...%
AOV: Rp...
Revenue terbesar:

B | Biaya

HPP: ...%
Gross Margin: ...%
Opex: Rp...
Marketing Cost: Rp...

I | Indikator

Lead: ...
Closing: ...
Conversion: ...%
CAC: Rp...
Repeat: ...%

S | Sales

Channel terbesar:
Sales terbesar:
Owner dependency: Ya/Tidak

O | Operasional

Capacity: ...
Utilization: ...%
Delivery time: ...
Complaint: ...%

N | Numbers

Net Profit: Rp...
Cash: Rp...
Piutang: Rp...
Hutang: Rp...
BEP: Rp...

O | Outlook

Growth: ...
Trend: ↑ / → / ↓
Risiko terbesar: ...
Target 12 bulan: ...

Dan di bagian paling bawah:

"Dari seluruh data di atas, apa yang paling tidak masuk akal?"

Nah. Itu baru kita bawa ke INVESTIGATION.

Karena menurut saya, WATCH versi ini bisa menjadi fondasi paling kuat dari Wibisono Method: tidak peduli Anda masuk ke kontraktor, hotel, restoran, travel umroh, properti, manufaktur, distributor, klinik, maklon, atau bisnis jasa, kerangka pertanyaannya tetap sama.

Yang berubah hanya benchmark dan detail pertanyaannya.

Kalau kita lanjut malam ini, saya ingin membedah WATCH menjadi "Wibisono Business Diagnostic 50 Questions"—50 pertanyaan universal yang bisa diberikan kepada owner sebelum konsultasi, lalu dari jawabannya kita otomatis bisa membuat Business Snapshot + Red Flag + kandidat bottleneck sebelum masuk ke Investigation.

 

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *