Cara Mendapatkan Banyak Pelanggan dengan Strategi Marketing yang Lebih Terarah dan Tidak Sekadar Ramai
Marketing yang ramai belum tentu marketing yang menghasilkan.
Media sosial mendapatkan banyak likes.
Video mendapatkan ribuan views.
Website mendapatkan pengunjung.
Iklan menghasilkan banyak klik.
WhatsApp mendapatkan banyak pertanyaan.
Tetapi ketika owner melihat omzet, hasilnya tidak sebanding.
Inilah salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam strategi mendapatkan pelanggan.
Bisnis terlalu fokus pada ramainya aktivitas marketing, tetapi lupa mengukur apakah aktivitas tersebut menghasilkan customer yang benar-benar membeli.
Dalam Wibisono Method, semuanya dimulai dari Watch.
Owner perlu melihat perjalanan marketing dari awal sampai akhir.
Berapa orang yang melihat promosi?
Berapa yang mengklik?
Berapa yang menghubungi?
Berapa yang memenuhi kriteria calon customer?
Berapa yang membeli?
Berapa nilai transaksi mereka?
Data tersebut jauh lebih penting daripada sekadar jumlah views.
Misalnya sebuah konten mendapatkan 100.000 views tetapi hanya menghasilkan 2 pembelian.
Sementara konten lain mendapatkan 5.000 views tetapi menghasilkan 30 pembelian.
Konten mana yang lebih bernilai bagi bisnis?
Jawabannya jelas.
Karena tujuan bisnis bukan memenangkan perlombaan views.
Tujuannya adalah mendapatkan customer yang tepat dan menguntungkan.
Masuk ke tahap Investigate.
Cari tahu channel mana yang menghasilkan customer terbaik.
Apakah TikTok?
Instagram?
Facebook?
Google?
Referral?
Marketplace?
Database lama?
Jangan hanya bertanya channel mana yang menghasilkan traffic paling besar.
Tanyakan juga channel mana yang menghasilkan qualified customer.
Kemudian tentukan Bottleneck.
Bisa jadi masalah bukan kurangnya traffic.
Mungkin targeting terlalu luas.
Akibatnya bisnis mendapatkan banyak orang yang tertarik tetapi tidak memiliki kebutuhan, kemampuan membeli, atau urgensi.
Jika bottleneck berada pada targeting, menambah budget iklan bukan solusi utama.
Tahap berikutnya adalah Improve.
Perjelas target market.
Siapa yang paling membutuhkan produk?
Siapa yang paling mudah mendapatkan manfaat?
Siapa yang memiliki kemampuan membeli?
Siapa yang memiliki masalah yang ingin diselesaikan?
Kemudian buat pesan marketing yang spesifik.
Daripada mengatakan:
“Jasa marketing terbaik untuk semua bisnis.”
Lebih baik komunikasikan masalah yang spesifik.
Misalnya:
“Omzet tidak naik padahal leads sudah banyak?”
Pesan seperti ini lebih mudah menarik perhatian owner yang memang mengalami masalah tersebut.
Setelah strategi terbukti, masuk ke Systemize.
Buat sistem konten.
Sistem iklan.
Sistem lead generation.
Sistem follow-up.
Sistem pencatatan sumber leads.
CRM dapat digunakan untuk mengetahui asal setiap customer.
Dengan begitu, owner tidak lagi mengandalkan perasaan saat menentukan channel marketing.
Tahap berikutnya adalah Optimize.
Ukur cost per lead, conversion rate, customer acquisition cost, average order value, omzet, dan profit.
Satu channel mungkin menghasilkan leads murah tetapi customer berkualitas rendah.
Channel lain mungkin menghasilkan leads lebih mahal tetapi menghasilkan profit lebih besar.
Maka jangan hanya mencari lead termurah.
Carilah customer yang paling bernilai.
Setelah ditemukan channel yang efektif, masuk ke Next Growth.
Barulah budget dapat diperbesar.
Konten diperbanyak.
Audience diperluas.
Tim marketing ditambah.
Automasi diterapkan.
Inilah perbedaan antara marketing yang sekadar ramai dengan marketing yang benar-benar membangun bisnis.
Marketing yang ramai membuat owner sibuk.
Marketing yang terarah membuat bisnis bertumbuh.
One Page Summary
W — Watch: ukur perjalanan marketing sampai transaksi.
I — Investigate: cari channel dan target customer terbaik.
B — Bottleneck: temukan masalah terbesar dalam acquisition.
I — Improve: perbaiki targeting dan pesan marketing.
S — Systemize: bangun sistem lead generation dan tracking.
O — Optimize: ukur CPL, CAC, conversion, omzet, dan profit.
N — Next Growth: scale channel yang terbukti menghasilkan.
O — One Page Summary: jangan mengejar marketing yang ramai; bangun marketing yang menghasilkan customer yang tepat.
Jika Anda merasa marketing sudah dilakukan di banyak tempat tetapi pelanggan yang datang tidak berkualitas, mungkin masalahnya bukan kurang banyak promosi. Bisa jadi bisnis membutuhkan diagnosis marketing yang lebih tajam.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar