Cara Menentukan Target Omzet yang Realistis Berdasarkan Kondisi Bisnis dan Kapasitas Operasional

Menentukan target omzet sering kali dilakukan dengan cara sederhana:

"Tahun depan saya ingin omzet dua kali lipat."

Target tersebut boleh saja menjadi visi.

Namun visi belum tentu merupakan target operasional yang realistis.

Target omzet seharusnya dihitung berdasarkan kemampuan bisnis.

Misalnya sebuah bisnis saat ini menghasilkan Rp100 juta per bulan. Owner ingin mencapai Rp300 juta.

Pertanyaannya bukan hanya "bagaimana mendapatkan Rp200 juta tambahan?"

Pertanyaannya adalah:

Dari mana omzet tersebut akan datang?

Dalam Wibisono Method, proses dimulai dari Watch.

Catat kondisi saat ini: jumlah leads, conversion rate, average order value, kapasitas produksi, jumlah sales, jam operasional, dan margin.

Kemudian masuk ke Investigate.

Cari tahu kapasitas sebenarnya.

Misalnya perusahaan memiliki kapasitas produksi maksimal 1.000 unit per bulan. Jika target omzet membutuhkan penjualan 2.000 unit, maka ada masalah kapasitas.

Di sinilah tahap Bottleneck menjadi penting.

Hambatan pertumbuhan mungkin bukan marketing.

Bisa jadi produksi tidak mampu memenuhi permintaan.

Atau sales tidak cukup.

Atau cash flow tidak mendukung pembelian bahan baku.

Setelah ditemukan, masuk ke Improve.

Jika kapasitas produksi menjadi bottleneck, tingkatkan kapasitas terlebih dahulu.

Jika leads kurang, perbaiki marketing.

Jika closing rendah, perbaiki sales.

Kemudian masuk ke Systemize.

Buat sistem agar target dapat dipantau setiap minggu.

Misalnya target omzet Rp300 juta per bulan diterjemahkan menjadi target mingguan dan target harian.

Selanjutnya Optimize.

Bandingkan target dengan realisasi.

Jika target terlalu tinggi atau terlalu rendah berdasarkan data baru, lakukan penyesuaian.

Kemudian masuk ke Next Growth.

Ketika sistem sudah mampu menghasilkan target secara konsisten, barulah target berikutnya dibuat lebih tinggi.

Dengan demikian target omzet bukan sekadar angka yang ditulis di papan.

Target harus memiliki mesin penghasil omzet di belakangnya.

Target yang baik harus menjawab:

Berapa leads yang dibutuhkan?

Berapa conversion rate?

Berapa transaksi?

Berapa nilai transaksi rata-rata?

Berapa kapasitas operasional?

Berapa profit yang dihasilkan?

Jika pertanyaan tersebut dapat dijawab, target omzet menjadi jauh lebih terukur.

One Page Summary

Watch: ukur kondisi bisnis saat ini.
Investigate: hitung kapasitas dan sumber omzet.
Bottleneck: cari batas terbesar pertumbuhan.
Improve: perbaiki batas tersebut.
Systemize: pecah target menjadi KPI mingguan dan harian.
Optimize: bandingkan target dengan realisasi.
Next Growth: naikkan target setelah sistem siap.
One Page Summary: target omzet harus berasal dari perhitungan leads, conversion, transaksi, nilai transaksi, kapasitas, dan profit.

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar