Cara Meningkatkan Repeat Order agar Bisnis Tidak Selalu Bergantung pada Mencari Pelanggan Baru

Mencari customer baru memang penting.

Tetapi jika bisnis hanya mengandalkan customer baru, owner harus terus bekerja keras untuk mengisi bagian atas funnel.

Setiap bulan harus mencari leads.

Harus membuat iklan.

Harus membuat konten.

Harus melakukan promosi.

Padahal ada cara lain untuk memperkuat omzet: repeat order.

Customer yang sudah pernah membeli memiliki pengalaman langsung dengan bisnis.

Jika mereka puas dan masih memiliki kebutuhan, peluang untuk kembali membeli dapat menjadi sangat berharga.

Dalam Wibisono Method, tahap Watch dimulai dengan melihat data repeat order.

Berapa persen customer membeli kembali?

Berapa lama jarak antartransaksi?

Produk apa yang paling sering dibeli ulang?

Customer mana yang paling loyal?

Kemudian masuk ke Investigate.

Jika repeat order rendah, cari tahu penyebabnya.

Apakah customer memang hanya membutuhkan produk satu kali?

Atau sebenarnya produk dapat digunakan berulang tetapi bisnis tidak pernah mengingatkan?

Apakah customer tidak mengetahui produk lanjutan?

Apakah pelayanan setelah transaksi tidak ada?

Apakah customer kecewa?

Pertanyaan tersebut sangat penting.

Setelah itu tentukan Bottleneck.

Misalnya ternyata sebagian besar customer puas, tetapi bisnis tidak memiliki sistem follow-up.

Maka inilah bottleneck-nya.

Bukan produknya.

Bukan harganya.

Bukan marketingnya.

Tahap Improve dapat dilakukan dengan membuat reminder pembelian ulang.

Misalnya setelah customer membeli, sistem mencatat tanggal transaksi.

Beberapa waktu kemudian customer mendapatkan komunikasi yang relevan.

Bukan sekadar:

“Pak, mau order lagi?”

Tetapi:

“Pak, biasanya setelah menggunakan produk ini selama beberapa minggu, kebutuhan berikutnya adalah X. Kalau Bapak membutuhkan, kami siap membantu.”

Komunikasi seperti ini terasa lebih membantu.

Kemudian masuk ke Systemize.

Buat customer lifecycle.

Hari pembelian.

Hari onboarding.

Follow-up pengalaman.

Reminder penggunaan.

Penawaran produk pendamping.

Reminder repeat order.

Program loyalitas.

Dengan sistem tersebut, bisnis tidak bergantung pada ingatan admin.

Selanjutnya Optimize.

Ukur repeat purchase rate.

Revenue per customer.

Customer retention.

Average order value.

Profit per customer.

Data tersebut membantu owner mengetahui apakah strategi retention berhasil.

Setelah repeat order membaik, masuk ke Next Growth.

Barulah bisnis dapat meningkatkan customer acquisition.

Sekarang pertumbuhan memiliki dua kaki.

Customer baru masuk.

Customer lama kembali.

Inilah bisnis yang lebih sehat.

One Page Summary

Watch: ukur repeat order dan retention.
Investigate: cari alasan customer kembali atau berhenti.
Bottleneck: temukan hambatan repeat order.
Improve: buat pengalaman dan reminder yang relevan.
Systemize: bangun customer lifecycle.
Optimize: ukur retention dan revenue per customer.
Next Growth: gabungkan acquisition dan retention.
One Page Summary: bisnis tidak harus terus-menerus mencari customer baru jika customer lama memiliki alasan yang kuat untuk kembali.

Jika biaya mendapatkan customer baru semakin mahal, salah satu pertanyaan yang layak diajukan adalah:

“Apakah customer yang sudah pernah membeli dari kita sudah kita layani dengan baik sehingga mereka ingin kembali?”



Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar